Memeriksa kembali apa yang menjadi terutama dalam hidup kita.
Jika kita memeriksa kembali hidup kita, seberapa yakinkah kita bahwa Allah masih menjadi yang terutama ?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat serius. Sebab, bagaimana jika kita tidak sadar bahwa Allah sudah tidak lagi menjadi yang terutama dalam hidup kita ? Karena itu, kita perlu bertanya lebih dalam: Jika Allah tidak lagi menjadi yang terutama dalam hidup kita, apakah kita menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang serius, bahkan sebuah dosa ?
Masalahnya bukan sekadar apakah kita melakukan sesuatu yang salah. Masalah yang lebih mendasar adalah ketika hati kita mulai menempatkan sesuatu yang lain di atas Allah.
Kejatuhan Adam tidak dimulai ketika buah itu dimakan.
Kejadian 3 : 6
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Mengapa Adam diam dan ikut makan “buah terlarang” itu ?
Mengapa Adam tidak menunjukkan keraguan ?
Apa yang membuat Adam seakan-akan “lupa” dengan perintah Allah ?
Apa yang telah terjadi dan berubah dalam diri Adam ?
Kejadian 2 : 15 - 18
Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia : Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Tuhan Allah berfirman : Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita mengingat kondisi Adam sebelum kejatuhan.
Tiga fakta sebelum kejatuhan dalam dosa :
1. Adam sudah menerima perintah langsung dari Allah (Direct Order) (ayat 17).
2. Adam tidak sedang kelaparan atau kekurangan makanan (ayat 16).
3. Adam juga tidak dibiarkan sendirian. Allah sendiri berinisiatif memberikan penolong yang sepadan (ayat 18)
Kejatuhan manusia, sesungguhnya sudah dimulai jauh hari sebelum buah itu dimakan.
Diamnya Adam menjadi sebuah pertanyaan besar. Dia tidak menghentikan, tidak menegur, dan bahkan akhirnya ikut makan. Apa yang membuatnya diam ?
Terpesona oleh buah ?
Terpesona oleh tipu daya ular ? Atau terpesona oleh relasi dengan Hawa ?
Kita tidak dapat memastikan secara langsung apa yang paling dominan dalam hati Adam pada saat itu. Apa pun bentuknya, ada satu hal yang terjadi, yaitu pesona terhadap sesuatu dapat menggeser Allah dari posisi-Nya yang terutama dalam hidup manusia.
Kejatuhan tidak pertama-tama dimulai ketika tangan Adam mengambil buah. Kejatuhan dimulai ketika hati manusia mulai bergeser, ketika sesuatu mulai menjadi lebih menarik, lebih penting, dan akhirnya mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah sebagai yang Terutama.
Ketika “Pemberian” Allah menggantikan Sang Pemberi.
Inilah bahaya yang sering tidak kita sadari. Pesona terhadap pemberian Allah dapat menggantikan keutamaan Allah. Kita dapat begitu mencintai sesuatu yang baik sampai kasih kepada ciptaan perlahan-lahan mengalahkan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Namun, sesuatu yang baik dapat menjadi masalah ketika yang baik itu menjadi lebih utama daripada Allah sendiri. Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, Apakah ini sesuatu yang baik ?tetapi juga, Apakah sesuatu yang baik ini sudah mengambil tempat Allah sebagai yang terutama ?
Dosa dapat dimulai dari pergeseran keutamaan di dalam hati. Kejadian 4 : 7 menggambarkan dosa sebagai sesuatu yang sudah mengintip di depan pintu; dosa menggoda dan menarik manusia, tetapi manusia harus berkuasa atasnya. Karena itu, kita perlu belajar mengenali apa yang sedang terjadi di dalam hati sebelum semuanya menjadi tindakan.
Israel : Ketika Allah yang nyata digantikan oleh sesuatu yang dapat dilihat.
Pergeseran seperti ini bukan hanya terjadi pada Adam. Kita melihat pola yang sama dalam kehidupan umat Israel. Allah telah menyatakan diri-Nya kepada Israel dan memberikan Dekalog (10 perintah) secara langsung.
Ketika umat Israel menggeser Allah sebagai Allah mereka : Allah telah menyatakan diri-Nya dan memberikan Dekalog secara langsung.
Musa menerima perintah Allah di Gunung Sinai (Keluaran 20 : 1 - 17)
Musa berada di Gunung Sinai selama 40 hari 40 malam.
Keluaran 24 : 18
Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya.
Ketika Musa belum turun, perhatian umat Israel mulai bergeser dari Allah.
Keluaran 32 : 1
Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya : Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir - kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.
Harun membuat anak lembu emas, dan umat Israel menyembahnya.
Keluaran 32 : 4 & 6
Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka : Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir ! Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.
Kita dapat menikmati berkat Allah, tetapi kehilangan fokus kepada Allah. Kita dapat mencintai pemberian Allah, tetapi melupakan Sang Pemberi. Sesuatu yang baik pun dapat mengambil tempat yang salah ketika akhirnya menjadi lebih utama daripada Allah sendiri.
Hati manusia adalah pabrik berhala.
Ada persoalan yang jauh lebih mendalam, yaitu kecenderungan hati manusia untuk menggeser sesuatu ke tempat yang seharusnya hanya ditempati oleh Allah.
Dalam bukunya “Counterfeit Gods”, Timothy Keller membahas persoalan ini dengan sangat tajam. Ia menggunakan sebuah gambaran yang kuat bahwa “hati manusia adalah pabrik berhala”.
Premis utama buku “Counterfeit Gods” adalah Hati manusia adalah pabrik berhal “Good thing” dapat berubah menjadi “ultimate thing” Manusia mencari dari ciptaan apa yang sebenarnya hanya dapat diberikan oleh Allah saja. Berhala muncul ketika sesuatu menjadi terlalu penting bagi kita. Berhala akhirnya mengecewakan. Solusinya bukan sekadar membuang berhala, tetapi mengembalikan Allah sebagai yang utama
Karena itu, solusinya adalah mengembalikan Allah sebagai yang utama. Sebab persoalannya bukan apakah kita memiliki sesuatu, tetapi apakah sesuatu itu telah memiliki kita. Pada akhirnya, hati kita perlu diarahkan kembali kepada Allah sebagai Ultimate yang sebenarnya. Ketika Allah kembali menjadi yang terutama, segala sesuatu yang lain dapat kembali ke tempat yang seharusnya.
Bagaimana kita mengenali berhala yang ada di dalam hati ?
Empat jendela untuk mengenali berhala hati :
1. Ketakutan terdalam - What am I most afraid of losing ? Apa yang paling kita takut kehilangan ,
2. Lamunan - What do I constantly dream about ?
Apa yang sering kita bayangkan ?
3. Kemarahan - What makes me disproportionately angry ?
Apa yang membuat saya marah secara berlebihan
4. Pengeluaran uang - Where does my money naturally go ? Kemana uang paling mudah kita keluarkan ?
Kembali kepada Allah sebagai Yang Terutama.
Pada akhirnya, seluruh pembahasan ini membawa kita kembali kepada pertanyaan awal: apakah Allah masih menjadi yang terutama dalam hidup kita ? Sementara itu, pembahasan tentang berhala hati mengingatkan kita bahwa sesuatu yang sebenarnya baik pun dapat berubah menjadi ultimate thing ketika kita menempatkannya di atas Allah.
Karena itu, Allah harus kembali menjadi YANG TERUTAMA. Dan ketika Allah kembali menjadi yang terutama, segala sesuatu yang lain dapat kembali ke tempatnya yang benar.
KESIMPULAN :
Menempatkan Allah sebagi yang terutama = pintu keintiman. Keintiman dimulai dengan memprioritaskan atau mengutamakan Tuhan, bagaimana kita, dan menepatkan Tuhan dalam hidup kita akan menentukan keintiman kita dengan Tuhan.
Menggeser Allah dari yang terutama dalam hidup = pintu kejatuhan dalam dosa. Ketika Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama, kita membuka pintu bagi kejatuhan dalam dosa
Kejadian 4 : 7b
dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



