📌 Ringkasan sebelumnya : Lukas 22
Perjamuan Paskah Yahudi dikenal dengan sebutan Seder Pesakh. Dalam perayaan ini, bangsa Yahudi makan roti tidak beragi dan sayur pahit. Roti dan sayur melambangkan dua hal, yaitu: Pertama, pahitnya penderitaan bangsa Israel karena penindasan orang Mesir. Kedua, pahitnya penderitaan bangsa Mesir ketika Allah mencabut nyawa semua anak sulung mereka. Cawan melambangkan dua hal. Pertama, penebusan Allah bagi umat Israel yang luput dari wabah kematian. Kedua, murka Allah bagi segenap tanah dan penduduk Mesir. Sebab itu, Paskah merupakan perayaan bagi keperkasaan Allah Israel yang harus dilakukan selamanya.
Sebagai orang Yahudi, Yesus menjalani tradisi Paskah Seder. Kali ini Yesus membutuhkan ruangan yang besar dan dia telah mempersiapkan semuanya. Ia ingin merayakan Paskah hanya dengan dua belas murid-Nya, sebelum Ia menjalani tugas penebusan-Nya. Ini adalah Paskah terakhir-Nya di dunia. Momen ini dipakai Yesus untuk menjelaskan makna baru dari Paskah dan sekaligus mengadakan Perjanjian Baru antara diri-Nya dengan umat Allah yang ditebus melalui kematian-Nya.
Dalam pertemuan itu, Yesus menunjuk secara langsung bahwa diri-Nya adalah Anak Domba Paskah yang harus mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Roti tidak beragi diartikan sebagai tubuh Kristus. Melalui tubuh Kristus, setiap orang percaya adalah satu Roh. Cawan dimaknai sebagai darah Kristus. Melalui kayu salib, Kristus melakukan pendamaian antara Allah dengan manusia berdosa. Di sini, Yesus telah meletakkan fondasi Ekaristi yang lebih konkret di mana Roh Allah akan bertakhta dalam diri orang percaya
.
Pengurbanan Kristus membawa perubahan drastis dalam hukum Yahudi. Sebab, kita tidak hidup di bawah Taurat, melainkan hidup di bawah rahmat Allah. Lewat anugerah, kita menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, kita tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi hidup untuk Kristus. Marilah kita menjadi saksi dari suatu perjanjian baru dalam Kristus.
📖 Pengantar Lukas 23
Mahkamah Sanhedrin memutuskan untuk menghukum mati Yesus. Tetapi mereka tidak memiliki kekuatan hukum untuk melakukannya. Hukuman mati adalah hak pemerintah. Inilah alasannya mengapa mereka membawa Yesus ke pada Pilatus. Tetapi apa tuduhannya? Jika tuduhan teologis tentu Pilatus tidak mau campur tangan. Akhirnya, pemimpin agama Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus dengan berbagai tuduhan.