📌 Ringkasan sebelumnya : Lukas 23
Pemimpin-pemimpin Yahudi telah memvonis Yesus. Tapi mereka tidak berwenang untuk melaksanakan keputusan tersebut. Mereka perlu dukungan pemerintah Roma. Maka mereka membawa perkara itu kepada Pontius Pilatus, penguasa Yudea. Mereka ingin meyakinkan dia mengenai kesalahan Yesus supaya dihukum sesuai keinginan mereka. Dalam proses pemeriksaan, Pilatus menemukan bahwa Yesus bukanlah ancaman bagi pemerintah Roma di Yudea. Namun orang banyak yang didominasi musuh-musuh Yesus, tetap menekankan kesalahan Yesus. Ini membingungkan Pilatus. Sebab itu, mengetahui bahwa Yesus adalah orang Galilea, menjadi celah bagi Pilatus untuk melepaskan diri dari perkara ini. Lalu ia mengirimkan Yesus kepada Herodes, penguasa Galilea.
Herodes yang sudah lama ingin bertemu Yesus, menyambut gembira hal ini. Ia sangat ingin melihat Yesus melakukan mukjizat, tetapi bukan untuk mengeta-hui kebenaran. Ia hanya cari hiburan. Maka Yesus tidak memberi jawaban apapun atas segala pertanyaan Herodes, sampai akhirnya Dia dikirim kembali kepada Pilatus. Herodes pun tidak menemukan kesalahan Yesus! Seharusnya pernyataan ketidakbersalahan Yesus, baik oleh penguasa Galilea maupun Yudea, sudah cukup untuk melepaskan Yesus dari dakwaan. Namun ini memperlihatkan bahwa pada akhirnya semua pihak, bukan hanya Yahudi, tetapi banyak orang lain juga bertanggung jawab atas kematian Yesus.
Tiga kali Pilatus berusaha membebaskan Yesus dari hukuman atau paling tidak meringankan penderitaan Yesus dari akibat penyaliban. Walau berupaya dengan sungguh, pada akhirnya ia menyerah dengan tuntutan orang-orang yang bernafsu menyalibkan Yesus. Kegagalan Pilatus itu dicatat bukan hanya dalam Alkitab namun juga sejarah dunia.
Lain dengan Simon dari Kirene. Ia baru saja dari luar kota, ia tidak tahu menahu soal penyaliban Yesus, Ia tidak terlibat dalam peristiwa tersebut. Secara tiba-tiba hidupnya berubah total, ketika beberapa tentara Romawi dengan arogan memaksanya untuk memikul salib Yesus. Ia tidak berusaha menjadi terkenal, tidak berupaya meringankan beban Yesus. Ternyata Allah berkehendak lain. Sepanjang jalan memikul salib Yesus, sepanjang jalan itulah ia memandangi Yesus. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya hanya ada keringat bercampur debu. Simon yang bukan siapa-siapa, yang tidak punya kuasa dipakai Allah dalam karya Agung-Nya.
Seorang penguasa seperti Pilatus, tidak berdaya. Simon yang tak ada apa-apanya, diberdayakan Allah. Sebaliknya, Kristus yang ditangisi oleh perempuan-perempuan, justru menyatakan kedaulatan Allah. Memang hanya Allah yang memiliki kedaulatan dan kuasa atas segala sesuatu. Bukan kita yang mengendalikan hidup ini, melainkan Dia, Sang Pencipta dan Pemililk.
📖 Pengantar Lukas 24
kebangkitan Yesus bukanlah peristiwa yang mendadak dan mengejutkan. Kebangkitan-Nya telah dinyatakan sebelumnya. Teringat pada perkataan Yesus, perempuan-perempuan sadar bahwa Yesus bangkit. Berita kebangkitan Yesus mereka saksikan kepada murid-murid Yesus. Apa reaksi murid-murid? Percaya? Ternyata tidak!. Justru mereka menganggap bahwa kesaksian perempuan-perempuan tersebut adalah omong kosong. Memang sulit menerima fakta bahwa Yesus telah bangkit, kecuali dengan iman.