Banyak pasangan suami-istri, termasuk mereka yang aktif melayani dan rajin beribadah di gereja, mengalami konflik yang amat berat hingga berujung pada perceraian.
Berdasarkan pengalaman pelayanan konseling, akar utama dari sebagian besar konflik keluarga, keretakan hubungan, hingga perceraian bukanlah semata-mata masalah perbedaan pendapat atau tekanan ekonomi. Faktor yang paling kerap menjadi penyebab utama runtuhnya fondasi rumah tangga adalah ketidakmampuan salah satu atau kedua belah pihak pasangan untuk saling mengampuni kesalahan masing-masing. Ketika sebuah kesalahan dibiarkan tanpa pengampunan, benih perpecahan mulai tertanam dan perlahan merusak pernikahan.
Efesus 5:31-32
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
Pernikahan secara Kristen bukan sekadar perjanjian sipil atau kesepakatan emosional antara dua insan manusia, melainkan mencerminkan hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya. Dalam hubungan antara Kristus dan jemaat, terdapat satu unsur mutlak yang menjadi pengikat utama, yaitu kasih yang disertai pengampunan yang tidak bersyarat (unconditional forgiveness). Kristus mengasihi jemaat-Nya dan mengampuni segala dosa manusia tanpa syarat.
Sayangnya, prinsip ini sering kali tidak disadari atau diabaikan oleh pasangan saat melangkah ke jenjang pernikahan. Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan mengejar kebahagiaan pribadi tanpa mempersiapkan hati untuk saling mengampuni. Padahal, sebuah pernikahan yang dijalani tanpa menghadirkan pengampunan Kristus di dalamnya, akan menjadi pernikahan yang sangat rentan, mudah goyah, gampang retak, dan sangat berisiko hancur ketika badai konflik menghantam.
Standar Pengampunan Sesuai Firman Tuhan
Ketika konflik dan luka hati mulai terjadi di dalam pernikahan, sering kali suami atau istri mengeluh dan menyatakan bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi mengampuni pasangannya karena menganggap kesalahan pasangan sudah terlalu jauh atau di luar batas. Namun, Alkitab memberikan ukuran atau standar yang jelas mengenai bagaimana seharusnya seorang percaya mengampuni.
Kolose 3:13
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
Firman Tuhan menegaskan standar pengampunan dalam rumah tangga bukanlah ukuran manusiawi atau batasan kesabaran emosional kita. Standar mengampuni pasangan adalah sebagaimana Tuhan Yesus telah mengampuni segala dosa-dosa kita. Mengingat Kristus telah mengampuni pelanggaran kita secara tuntas dan tanpa syarat, maka kita pun diajak untuk memberlakukan standar pengampunan yang sama kepada pasangan kita. Kesadaran akan pengampunan Kristus ini harus dipahami dan tertanam kuat, bahkan sebelum seseorang memutuskan untuk menikah.
Namun, mengapa banyak orang merasa sangat sulit untuk memaafkan dan mengampuni pasangannya? Berdasarkan penuturan firman Tuhan dan pengamatan konseling pastoral, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan:
1. Kelalaian dalam Menjaga Hati (Amsal 4:23)
Amsal 4:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Dalam pernikahan, setiap pasangan pasti menghadapi berbagai gejolak kehidupan. Masalah timbul tatkala pengkhianatan, kebohongan atau dusta, bahkan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menyusup ke dalam rumah tangga.
Ketika hal-hal buruk ini terjadi dan hati tidak dijaga dengan kewaspadaan, maka hati akan dengan mudah dipenuhi oleh rasa kepahitan, luka batin, dan dendam. Dampak buruk dari hati yang tertutup kepahitan sangat besar, seperti:
- Benih-benih firman Tuhan yang ditaburkan di dalam hati tidak akan dapat tumbuh, bahkan menjadi mati.
- Seseorang akan menolak kebenaran serta nasihat firman Tuhan ketika ditegur atau diberi arahan pastoral.
- Penolakan terhadap firman menyebabkan seseorang mengambil keputusan dan tindakan yang salah dalam menyikapi masalah pernikahannya.
- Keputusan yang salah tersebut memberikan celah bagi Iblis untuk memperkeruh suasana sehingga mempercepat kehancuran rumah tangga.
2. Ketegaran dan Kekerasan Hati (Matius 19:6-8)
Matius 19:6-8
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.”
Yesus menegaskan, pada mulanya Allah mempersatukan pria dan wanita menjadi satu daging, dan apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Ketika orang-orang bertanya mengapa Musa mengizinkan surat cerai, Yesus menjawab bahwa hal itu diizinkan semata-mata karena ketegaran hati manusia, walaupun sejak semula tidaklah demikian.
Ketegaran hati (hardness of heart) adalah kondisi rohani yang sangat berbahaya. Hati yang keras dan tegar akan menyumbat aliran kasih Allah (kasih agape) di dalam rumah tangga. Akibat hilangnya aliran kasih agape ini, kemampuan emosional dan kerohanian seseorang untuk memaafkan suami, istri, maupun anak menjadi sirna. Tanpa kelembutan hati, ketegaran ini akan menyeret hubungan menuju keretakan permanen.
Banyak pasangan gagal mengampuni bukan karena masalahnya tidak ada jalan keluar, melainkan karena kasih Allah belum sungguh-sungguh mengalir di dalam diri mereka. Banyak orang menikah tanpa betul-betul memiliki pengenalan dan hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Padahal, kekuatan utama untuk bisa mengampuni dan mengalahkan dosa yang merusak pernikahan bersumber dari kelimpahan kasih Allah yang mengalir dalam hidup kita. Karena itu, pemuda-pemudi yang belum menikah sangat dinasihati untuk memastikan bahwa calon pasangannya adalah pribadi yang mengenal dan sungguh-sungguh mengasihi Dia.
3. Kesalahan dalam Menaruh Pengharapan
1 Petrus 3:5
Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh para istri (maupun suami) adalah menaruh pengharapan utamanya kepada pasangan manusia. Pasangan kita adalah manusia biasa yang tidak luput dari kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.
Ketika seorang istri menggantungkan harapan hidup dan kebahagiaan sepenuhnya kepada suami, maka kekecewaan demi kekecewaan akan timbul ketika suami gagal memenuhi harapan tersebut. Begitu pula sebaliknya. Kekecewaan ini melahirkan luka hati yang mendalam. Istri yang terluka dan merasa tertekan cenderung akan melawan suami, sementara suami yang merasa terluka akan makin menekan istri secara paksa untuk dihormati. Lalu, terjadi lingkaran konflik dan dilema yang seolah tidak berujung.
Sebaliknya, istri yang menaruh pengharapannya hanya kepada Allah akan memperoleh kekuatan batin. Sekalipun suaminya belum bertobat atau memiliki banyak kekurangan, istri yang berharap kepada Tuhan akan memiliki hati yang teguh untuk mendoakan, bergumul, dan menjadi penolong yang sejati bagi suaminya sampai Allah membuka jalan pemulihan. Demikian pun sebaliknya.
Firman Tuhan dengan tegas mengingatkan mengenai konsekuensi apabila menolak saling mengampuni di dalam keluarga:
• Pemulihan Pernikahan Terhalang Total
Selama dendam dan rasa kepahitan hati disimpan, maka proses pemulihan, kedamaian, dan keharmonisan tidak akan pernah terjadi dalam rumah tangga maupun pernikahan.
• Doa-doa Terhalang dan Tidak Didengar oleh Tuhan
Dalam Matius 6:12, 15 (Doa Bapa Kami), Yesus berpesan: "… dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami... Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
Ketika suami atau istri memelihara kebencian dan menolak mengampuni pasangannya, maka kesalahan mereka sendiri tidak diampuni oleh Bapa di surga, sehingga doa-doa mereka terhalang dan tidak didengar oleh Tuhan. Sungguh sebuah tragedi ketika pasangan berdoa memohon berkat Tuhan, namun doanya tertahan karena masih ada kebencian yang disimpan terhadap pasangannya.
• Terbukanya Pintu Masuk Dosa dan Kehancurans
Ketegaran hati akan menjadi pintu masuk bagi Iblis dan dosa untuk menguasai pikiran dan tindakan. Ini mengarahkan pasangan pada keputusan-keputusan yang merusak hingga berujung pada perceraian.
Jika saat ini ada keluarga atau pernikahan yang sedang berada dalam konflik hebat, dipenuhi kekecewaan, atau bahkan berencana mengambil keputusan perceraian, sangat dianjurkan untuk segera datang melakukan konseling pastoral dengan hamba Tuhan. Langkah ini penting untuk mencegah kerasnya hati, dan mencari jalan pemulihan sesuai petunjuk firman Allah.
Take home messages:
• Pengampunan itu penting di dalam pernikahan.
Karena pernikahan itu mencerminkan bagaimana pengampunan Kristus kepada jemaat-Nya.
• Penjagaan hati itu sangat penting untuk mencegah ketegaran hati.
Ketegaran hati bisa menjadi pintu masuknya dosa di dalam pernikahan kita.
• Pernikahan tanpa pengampunan bisa berakhir dengan perceraian.
Karena itu, kita belajar dan diingatkan bahwa pengampunan Kristus itu harus ada di dalam pernikahan, supaya satu dengan yang lain, suami dengan istri bisa saling mengampuni tanpa syarat, sehingga pernikahan kita bisa terselamatkan, utuh, serta tetap kuat.
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



