Kemarin kita telah membaca salah satu bentuk dari kesombongan rohani, yaitu menjadi seorang "nitpicker" atau yang selalu sering kali mencari-cari kesalahan-kesalahan orang lain maupun apa pun yang ada di sekitarnya.
Sementara itu, kesombongan rohani sendiri merupakan hal-hal atau sikap merasa superior atau lebih daripada orang lain, seperti merasa lebih suci ("holier than thou attitude") atau lebih benar dibandingkan mereka oleh karena memiliki pengetahuan ataupun pengalaman iman dan pencapaian rohani. Tidak salah memang mencapai sesuatu, namun jika selalu menganggap semua karena diri sendiri, itulah yang salah.
Orang yang sombong rohani ditandai dengan sikap hati yang suka menghakimi orang lain, membanggakan pengalaman rohani sebelum-sebelumnya (padahal Allah kita adalah Allah yang kreatif), merasa layak serta harus diberkati oleh Tuhan sekalipun kehidupannya tidaklah menyenangkan hati-Nya, dan suka membanding-bandingkan pelayanan orang lain.
Roma 12:3, "Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing."
Firman Tuhan mengingatkan, jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan, melainkan berpikir begitu rupa, sehingga kita mampu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada setiap kita. Apa saja contoh memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan:
Jadi, bagaimana dengan kita hari-hari ini? Masihkah ada sifat sombong rohani seperti itu di dalam hidup kita?
Nah, bagaimana cara yang sebaiknya untuk menghindari kesombongan rohani? Beberapa caranya:
Kolose 3:12 (TSI), "Oleh karena itu Saudara-saudari, sebagai orang yang sudah dipilih, dikasihi, dan disucikan oleh Allah sebagai umat-Nya sendiri, biarlah sifat-sifat ini melekat pada dirimu seperti pakaian baru. Hendaklah kamusaling mengasihani dalam kesusahan, selalu murah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar terhadap orang lain."
Karena Saudara telah dipilih Allah, yang memberi hidup baru itu, dan karena kasih dan perhatian-Nya yang mendalam pada Saudara, maka Saudara harus bersikap ramah, kasih, dan lemah lembut kepada orang lain. Jangan hanya ingin memberi kesan yang baik kepada mereka, tetapi bersedialah menanggung penderitaan dengan tenang dan sabar. (FAYH)
Clothe yourselves therefore, as God's own chosen ones (His own picked representatives), [who are] purified {and} holy and well-beloved [by God Himself, by putting on behavior marked by] tenderhearted pity {and} mercy, kind feeling, a lowly opinion of yourselves, gentle ways, [and] patience [which is tireless and long-suffering, and has the power to endure whatever comes, with good temper]. (AMP)
Jika Tuhan Yesus saja mau rendah hati, masakah kita mau menjadi sombong rohani?
~ Ibu Selviawati, M.Th