📌 Ringkasan sebelumnya : Yehezkiel 32
Selama lebih dari 4000 tahun, lebih dari 48 dinasti, Firaun menjadi yang terbaik sehingga jadi simbol pencapaian. Tanpa lawan dan tak terkalahkan! Dalam keyakinan Mesir, Firaun adalah keturunan dewa. Ia senantiasa dikaitkan dengan “hidup, sentosa, mulia, jaya, abadi, agung.”
Firaun membanggakan dirinya sebagai singa muda yang kuat tanpa tanding. Namun di mata Tuhan, ia tak lebih sebagai buaya pemangsa yang membuat kotor sungai Nil. Sebagai buaya, Firaun menjadi besar karena semua yang menempel padanya. Sepertinya ia memberi hidup dan pengayoman kepada rakyatnya, tetapi sesungguhnya ia menyerap kehidupan mereka bagi dirinya sendiri. Ia nampak besar dan dahsyat, tetapi di dalamnya keropos.
Oleh karena itu hari penghakiman akan datang. Apa pun yang menjadi kebanggaan Mesir akan dihancurkan. Tuhan akan menjadi lawan Mesir. Kedahsyatan penghukuman itu digambarkan dengan kegelapan yang membuat bangsa-bangsa di sekelilingnya merasa ngeri. Nil yang melambangkan kehidupan Mesir dijadikan tempat kematian bagi binatang yang biasa minum darinya.
Yang menarik adalah gambaran Tuhan membersihkan Nil sehingga menjadi seperti aliran minyak yang tenang. Biasanya minyak yang mengalir melambangkan ketenangan dan kemakmuran ala taman Eden. Namun di sini rupanya menggambarkan ketenangan yang tak tersentuh tanda kehidupan alias kematian. Nubuat ini digenapi saat Firaun Hofra dikalahkan oleh Nebukadnezar.
📖 Pengantar Yehezkiel 33
Yehezkiel menegaskan kebutuhan umat manusia akan Allah. Manusia ada karena anugerah Allah dan keberdosaan telah mengganggu konsentrasi manusia dalam melayani Allah. Satu-satunya jalan untuk kembali kepada Allah adalah dengan kembali kepada firman-Nya. Kegagalan dan kejatuhan Adam di taman di Eden adalah ketika ia mengabaikan firman Allah. Kita tidak boleh lagi mengulang kesalahan yang sama. Nabi membawakan berita dan pesan dari Allah untuk umat-Nya agar kita taat seperti kapal mengikuti tuntunan menara penjaga.