
Matius 20:26-27, "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu."
Di dunia yang mungkin serba kompetitif ini, keagungan sering kali diukur dengan jabatan, pengakuan, dan kekuasaan. Banyak orang berebut posisi, saling mendahului, dan bahkan menggunakan orang lain sebagai tangga untuk mencapai puncak.
Namun, Tuhan Yesus memperkenalkan paradigma yang berbanding terbalik daripada pola pikir dunia ini.
Saat para murid sibuk memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka (Lukas 22:24), Yesus bangkit dari meja, mengambil handuk, mengikatkannya pada pinggang-Nya, dan mulai membasuh kaki mereka—tugas yang biasanya dilakukan oleh seorang hamba terendah. Guru dan Tuhan mereka merendahkan diri-Nya sebagai pelayan.
Yesus, Sang Raja atas segala raja, datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Markus 10:45). Inilah pola yang Dia tetapkan. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Masihkah kita mau merendahkan diri? Masihkah kita rindu untuk melayani?
Catatan Full Life menjelaskan, "Karena umat manusia yang telah jatuh dalam dosa berpembawaan egosentris, maka dunia kurang menghormati sifat rendah hati. Akan tetapi, Alkitab, yang berisi pandangan yang berpusat kepada Allah dalam hal umat manusia dan keselamatan, sangat mementingkan sifat rendah hati. Lawannya kerendahan hati adalah kesombongan, suatu perasaan yang berlebih-lebihan tentang kepentingan diri dan harga diri di dalam seseorang yang percaya akan kebaikan, keunggulan, dan prestasinya sendiri. Kecenderungan yang tak terelakkan dari sifat manusia dan dunia adalah ke arah kesombongan, bukan kerendahan hati."
Semoga kita dapat belajar dari Tuhan Yesus, Teladan pelayanan yang sejati.
Filipi 2:1-4, "Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus--Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
He Took on the Status of a Slave--If you've gotten anything at all out of following Christ, if his love has made any difference in your life, if being in a community of the Spirit means anything to you, if you have a heart, if you care—then do me a favor: Agree with each other, love each other, be deep-spirited friends. Don't push your way to the front; don't sweet-talk your way to the top. Put yourself aside, and help others get ahead. Don't be obsessed with getting your own advantage. Forget yourselves long enough to lend a helping hand. (MSG)
~ FG