
Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah karikatur yang membuat saya tersenyum. Gambar pertama menunjukkan anak-anak SD yang masih digambarkan sebagai telur-telur kecil dengan seragam sekolah. Di bawahnya ada gambar reuni lima puluh tahun kemudian. Telur-telur itu sudah menetas. Lucunya, tidak semuanya menjadi ayam. Ada yang menjadi bebek, angsa, kura-kura, bahkan buaya. Saya tertawa melihatnya. Namun beberapa saat kemudian, gambar itu justru membuat saya termenung.
Bukankah hidup memang seperti itu?
Waktu masih kecil, kita memakai seragam yang sama. Belajar di kelas yang sama. Bermain di halaman yang sama. Siapa sangka, puluhan tahun kemudian Tuhan membawa setiap orang ke jalan yang sama sekali berbeda. Ada yang menjadi guru, dokter, pendeta, pengusaha, ibu rumah tangga, atau melayani Tuhan dengan cara-cara yang tidak pernah kita bayangkan. Ada yang melewati jalan yang mulus, ada pula yang harus berjalan melalui lembah air mata.
Sering kali, reuni berubah menjadi ajang membandingkan kehidupan. Siapa yang paling sukses, siapa yang paling kaya, siapa yang paling terkenal. Namun saya rasa Tuhan tidak pernah melihat hidup kita seperti itu. Sejak awal, Ia tidak pernah bermaksud agar semua menetas menjadi sama. Setiap orang diciptakan dengan panggilan yang unik. Rasul Paulus menggambarkannya sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Mata tidak perlu menjadi tangan, dan kaki tidak perlu iri kepada telinga. Semuanya berbeda, tetapi semuanya penting. Bukan sekadar seragam, melainkan beragam.
Mungkin itulah yang akan kita sadari ketika suatu hari nanti berkumpul di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi gelar, jabatan, atau pencapaian yang menjadi ukuran. Yang tinggal hanyalah satu pertanyaan sederhana: Apakah aku sudah menjadi pribadi seperti yang Tuhan ciptakan dan rancangkan?
Efesus 2:10 (TB2), "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya."
Tuhan tidak pernah menciptakan kita untuk menjadi salinan satu sama lain. Karena itu, berhentilah membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain, namun setialah mengerjakan panggilan yang Ia percayakan.
Dulu mungkin kita semua memakai seragam yang sama. Hari ini hidup kita mungkin sangat berbeda. Namun di dalam Kristus, kita tetap memiliki Allah Bapa yang sama. Dan mungkin itulah reuni yang paling indah, yaitu ketika anak-anak-Nya akhirnya pulang kembali ke rumah. Dan saat hidup kita di dunia ini usai, kiranya kita bukan sekadar dikenal karena keberhasilan, melainkan lebih oleh karena kesetiaan kita mengikuti kehendak-Nya.
~ JP