
Beberapa minggu terakhir, saya merasa Tuhan sedang mengajarkan pelajaran yang sama dari berbagai arah. Awalnya, lewat kisah tentang empati kepada pasien yang sedang berjuang hidup, lalu tentang memaafkan orang yang tidak pernah meminta maaf, kemudian tentang terus dibersihkan oleh air dan firman.
Hari belakangan ini, pelajaran itu muncul lagi lewat sebuah kalimat sederhana yang tiba-tiba menghentikan saya saat sedang menggulir media sosial: "Don't be a biblical bully." Jangan menjadi perundung atau pem-bully yang memakai Alkitab sebagai "senjata".
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Bukankah kita bisa saja mengetahui banyak ayat, tetapi tetap gagal menunjukkan hati Kristus? Ada saatnya firman dipakai untuk menghibur, menguatkan, dan memulihkan. Namun, ada juga saat ketika firman dijadikan alat untuk memenangkan perdebatan atau membuktikan kita lebih benar. Yang membedakan ternyata bukan ayatnya, melainkan hati orang yang mengutipnya.
Saya kemudian teringat kebiasaan yang rasanya cukup sering kita jumpai, bahkan mungkin pernah kita lakukan. Ketika seseorang berbuat salah, betapa mudahnya kita berkata, "Aku cuma ngomong apa adanya," atau "Aku cuma menyampaikan kebenaran." Kalimat-kalimat itu terdengar benar, tetapi Yesus mengajukan jalan yang berbeda. Dalam Matius 18, Ia tidak berkata, "Ceritakan dulu kepada teman-temanmu." Ia juga tidak berkata, "Pastikan semua orang tahu supaya mereka berhati-hati." Sebaliknya, Yesus berkata, datangilah dia. Berdua. Di bawah empat mata.
Matius 18:15a (TB2), "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata."
Saya mulai menyadari, bahwa berbicara langsung justru jauh lebih sulit daripada membicarakan seseorang di belakangnya. Menggosip tidak membutuhkan banyak keberanian. Menegur dengan kasih membutuhkan kerendahan hati, kesabaran, bahkan kesiapan untuk mungkin disalahpahami.
Menariknya lagi, saya juga belajar, bahwa menegur bukan sekadar soal berani berkata jujur. Menegur ialah buah dari sebuah hubungan. Yesus dan para rasul dapat berbicara begitu dalam kepada orang-orang yang mereka layani karena mereka terlebih dahulu mengasihi, berjalan bersama, dan mengorbankan diri bagi mereka. Sebelum bertanya, "Apakah aku harus menegurnya?" mungkin pertanyaan yang lebih penting ialah, "Apakah aku sudah cukup mengasihinya sehingga ia akan mendengar kasihku lebih dulu daripada kritikanku?"
Cara Yesus sendiri begitu indah. Ia tidak pernah mengurangi standar kebenaran, tetapi Ia juga tidak menikmati mempermalukan orang berdosa. Perempuan yang tertangkap berzina tidak dijadikan tontonan. Petrus yang menyangkal-Nya tidak dipermalukan di depan murid-murid lain. Setelah kebangkitan, Yesus hanya bertanya dengan lembut, "Apakah engkau mengasihi Aku?" Tujuan-Nya bukan mempermalukan, melainkan memulihkan.
Semakin saya merenungkan ini, semakin saya sadar, bahwa ukuran kedewasaan rohani mungkin bukan seberapa banyak ayat yang kita hapal atau seberapa cepat kita menemukan kesalahan orang lain. Kedewasaan rohani terlihat ketika cara kita memperlakukan orang mulai menyerupai cara Kristus memperlakukan kita. Ada kebenaran yang tetap disampaikan, tetapi dibalut dengan kasih. Ada keberanian untuk menegur, tetapi juga ada kerendahan hati. Dan ketika keduanya berjalan bersama, orang bukan hanya mendengar apa yang kita katakan, melainkan mulai melihat siapa Kristus yang kita wakili.
Karena itu, jangan hanya memakai firman untuk memenangkan perdebatan; pakailah firman untuk memenangkan hati, seperti Kristus telah lebih dulu memenangkan hati kita.
~ JP