
Efesus 4:25, " Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota."
Jadi, karena kamu sudah membuang cara hidupmu yang lama, jangan lagi menipu sesamamu. Katakan yang benar satu sama lain karena kita masing-masing adalah anggota dari satu tubuh. (TSI)
Hentikanlah kebiasaan saling membohongi. Katakanlah yang benar, karena masing-masing merupakan anggota, dan apabila kita saling membohongi, kita merugikan diri sendiri. (FAYH)
What this adds up to, then, is this: no more lies, no more pretense. Tell your neighbor the truth. In Christ's body we're all connected to each other, after all. When you lie to others, you end up lying to yourself. (MSG)
Beberapa hari ini, saya mendengar sebuah pengajaran yang sangat baik tentang perbedaan antara menghakimi dan menegur. Mengingatkan bahwa orang percaya tidak dipanggil menjadi hakim atas sesamanya.
Sebelum melihat kesalahan orang lain, Yesus meminta kita bercermin lebih dahulu. "Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, tetapi balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui?" Kalimat itu selalu berhasil membuat saya diam. Memang jauh lebih mudah menemukan kekurangan orang lain daripada mengakui kelemahan diri sendiri.
Namun, muncul sebuah pertanyaan kecil dalam hati saya. Mengapa ketika topik ini dibahas, posisi jemaat sering kali menjadi pihak yang harus terus belajar menerima teguran, menghormati pemimpin, dan menjaga sikap? Semua itu benar. Tetapi, bagaimana dengan mungkin kita yang berada pada posisi menjadi para pemimpin? Entah itu di perusahaan, di pelayanan, di tengah masyarakat, dan lainnya? Bukankah para pemimpin juga sebenarnya manusia yang masih terus dibentuk oleh Tuhan? Bukankah kita semua juga bisa salah?
Saya kemudian mencoba membuka kembali Alkitab. Menarik sekali, ternyata orang-orang yang paling sering ditegur Yesus bukanlah sekadar para pemungut cukai, perempuan berdosa, atau orang-orang yang sedang mencari pertolongan. Justru, para pemimpin agama yang paling sering menerima teguran-Nya. Yesus tidak segan menegur orang Farisi ketika mereka memakai posisi rohani untuk meninggikan diri, membebani orang lain, tetapi lupa menghidupi kasih. Teguran-Nya keras, bukan karena Ia membenci, melainkan karena semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula sebenarnya tanggung jawabnya.
Yakobus bahkan menulis sesuatu yang cukup menggentarkan, "Janganlah banyak orang menjadi guru, sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." Ini bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa kepemimpinan di dalam Kerajaan Allah bukanlah sekadar hak istimewa, melainkan lebih pada amanat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Yang indah, Alkitab juga memperlihatkan seperti apa respons seorang pemimpin ketika ditegur dengan benar. Daud, seorang raja yang sangat dihormati, pernah ditegur oleh nabi Natan setelah berdosa dengan Batsyeba. Natan tidak datang membawa penghinaan atau mempermalukan Daud di depan umum. Ia datang membawa kebenaran. Dan ketika akhirnya berkata, "Engkaulah orang itu," Daud tidak menggunakan kekuasaannya untuk membungkam suara tersebut. Ia mengakui dosanya di hadapan Tuhan. Kerendahan hati itulah yang membuat Daud tetap disebut sebagai seorang yang berkenan di hati Allah, bukan karena ia tidak pernah jatuh, tetapi karena ia bersedia bertobat ketika diingatkan.
Beberapa tahun kemudian, kita melihat peristiwa yang tidak kalah menarik. Paulus menegur Petrus secara terbuka ketika Petrus bersikap munafik terhadap orang-orang bukan Yahudi. Bayangkan, Petrus adalah rasul senior, tokoh besar gereja mula-mula. Paulus jauh lebih muda dalam pelayanannya. Namun, Injil lebih penting daripada menjaga gengsi seorang pemimpin. Di dalam tubuh Kristus, tidak ada seorang pun yang kebal terhadap kebenaran.
Di sisi lain, Alkitab juga mengingatkan bahwa tidak setiap kritik lahir dari kasih. Ada kritik yang bertujuan memulihkan, tetapi ada juga yang hanya ingin mempermalukan. Di zaman media sosial, perbedaan keduanya sering kali menjadi kabur. Kadang kita merasa sedang membela kebenaran, padahal yang sebenarnya kita nikmati ialah melihat seseorang dijatuhkan. Kita menyebutnya keberanian, tetapi mungkin yang bekerja adalah ego.
Yesus mengajarkan jalan yang berbeda. Ketika perempuan yang tertangkap berzina dibawa kepada-Nya, Ia tidak menutup mata terhadap dosa. Namun, Ia juga tidak ikut mengambil batu untuk melemparkannya. Setelah semua orang pergi, Yesus berkata, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi." Inilah keseimbangan yang sering hilang dari hidup kita. Kebenaran tanpa kasih berubah menjadi penghukuman, sedangkan kasih tanpa kebenaran berubah menjadi kompromi. Kristus memegang keduanya sekaligus.
Bagaimana dengan kita?
Kehidupan rohani yang sehat bukanlah di mana pemimpin tidak pernah dikritik atau umat selalu diam. Melainkan mau untuk menerima koreksi, maupun menyatakan apa yang benar. Rendah hatilah untuk menerima koreksi, dan dewasalah secara rohani dalam kasih. Sebab tujuan akhirnya adalah menjadi semakin serupa seperti Kristus.
Lagipula, seumur hidup kita, bukankah tidak ada dari antara kita yang sudah selesai dibentuk oleh-Nya? Janganlah menjadi terlalu tinggi untuk tidak bisa ditegur, dan janganlah menjadi terlalu rendah diri sehingga merasa tidak layak didengar. Kita semua adalah keluarga rohani yang saling menguatkan, saling mengoreksi dengan kasih, dan sama-sama rindu bertumbuh menyerupai Dia yang adalah Sahabat kita.
Amsal 27:5, "Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi."
Orang yang benar-benar mengasihi akan berani menegur temannya. Siapa yang diam saja melihat temannya berbuat salah, berarti tidak sungguh mengasihinya. (TSI)
Better to correct someone openly than to let him think you don't care for him at all. (GNB)
A spoken reprimand is better than approval that's never expressed. (MSG)
~ JP