
2 Tawarikh 2:6 (TB2), "Tetapi siapa yang mampu mendirikan suatu rumah bagi Dia, sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku hendak mendirikan suatu rumah bagi Dia, kecuali sebagai tempat untuk membakar korban di hadapan-Nya?"
Tidak seorang pun yang dapat membangun rumah untuk menaruh Allah kami ke dalamnya. Bahkan langit pun tidak dapat memegang Allah — alam semesta pun tidak dapat memegang Allah kami, jadi aku tidak dapat membangun sebuah Rumah untuk Allah. Aku hanya dapat membangun tempat untuk membakar kemenyan menghormati-Nya. (VMD)
But who is capable of building such a structure? Why, the skies--the entire cosmos!--can't begin to contain him. And me, who am I to think I can build a house adequate for God--burning incense to him is about all I'm good for! (MSG)
Salomo, raja terbesar Israel waktu itu, justru memulai proyek membangun Bait Allah dengan satu kesadaran: Tuhan terlalu besar untuk ditampung oleh apa pun. Bahkan langit pun tidak cukup.
Bait bukan tempat Tuhan "tinggal", tetapi tempat manusia belajar mendekat kepada-Nya. Namun di sinilah masalahnya: manusia berdosa tidak bisa sembarangan datang kepada Allah yang kudus. Karena itu ada korban—yang harus diulang terus-menerus saat itu.
Lalu, Anak Domba Paskah datang. Yesus menjadi korban yang sempurna, sekali untuk selamanya.
Ibrani 10:14 TB2), "Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan."
Tuhan yang tidak bisa "dimuat oleh langit" justru memilih untuk datang kepada manusia. "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita" (Yohanes 1:14, TB2). Langit, bahkan semesta alam, yang tidak cukup untuk memuat Dia, namun sekarang Dia memilih tinggal di dalam kita. Bahkan memakai kehidupan setiap kita. Bukan karena kita layak, tetapi hanya karena kasih-Nya. Resapilah hal itu.
Inilah inti Paskah: kita tidak bisa mencapai Tuhan—jadi Tuhan yang datang kepada kita. Dan lebih dalam lagi, sekarang: "Kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu" (1 Korintus 3:16, TB2).
Jika kita benar-benar sadar betapa besar Tuhan itu, kita tidak akan mencoba mengontrol-Nya; kita akan belajar berserah kepada-Nya. Sebab Dia mungkin terlalu besar untuk kita pahami, namun sangat dekat untuk dapat kita kenali."
"What comes into our minds when we think about God is the most important thing about us." (A. W. Tozer)
~ JP