
Belakangan ini, muncul suatu tren yang cukup menarik—orang membayar untuk bisa berbicara dengan AI Yesus. Mereka datang dengan pertanyaan, pergumulan, bahkan curhat hidup.
Ada sesuatu yang jujur di balik fenomena ini: manusia sebenarnya rindu untuk merasa didengar, dipahami, ataupun diarahkan.
Namun di saat yang sama, ada ironi yang tidak bisa diabaikan. Kita rela membayar untuk berbicara dengan representasi buatan, tetapi sering kali lupa bahwa kita sudah punya akses langsung kepada Pribadi yang hidup—tanpa biaya, tanpa batas, tanpa perantara teknologi.
Ia sendiri berkata: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28, TB2).
Undangan ini tidak pernah ditarik kembali. Tidak ada syarat berlangganan. Tidak ada batas waktu. Tidak ada versi premium. Yang ada hanya hati yang mau datang.
Jadi, masalahnya bukanlah kita tidak boleh menggunakan, memanfaatkan teknologi. Masalahnya, mungkin kita sering mengganti relasi yang nyata dengan pengalaman yang terasa cukup di permukaan saja. Kita pun mungkin merasa sudah mendekat, padahal kita belum benar-benar datang kepada-Nya.
Mazmur 145:18 (TB2), "TUHAN itu dekat kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya, kepada semua orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan."
Ia dekat pada orang yang berseru kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya dengan tulus hati. (BIS)
GOD's there, listening for all who pray, for all who pray and mean it. (MSG)
Artinya, kedekatan dengan Tuhan tidak ditentukan oleh alat, tetapi oleh ketulusan hati. Kita tidak butuh simulasi suara Tuhan, karena Roh Kudus sendiri sudah bekerja di dalam hati setiap orang percaya, yaitu kita.
Jadi, kalau kita benar-benar bisa bicara langsung dengan Yesus, Sahabat kita yang setia, mengapa kita jarang melakukannya? Mungkin bukan karena tidak bisa, tetapi karena kita lupa bahwa Dia selalu bersedia.
Kita mencari suara Tuhan di banyak tempat, dan mungkin sering kali mencari Dia di tempat yang salah, padahal Ia menunggu kita untuk berbicara langsung kepada-Nya, datanglah kepada-Nya dengan hati yang sederhana dan jujur. Dia mendengar, dan Dia peduli.
1 Petrus 5:7 (TB2), "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."
Serahkanlah kepada Allah semua masalah yang membuatmu kuatir, karena Dia peduli padamu. (TSI)
Serahkanlah segala kekuatiran dan kesusahan Saudara kepada-Nya, karena Ia selalu memikirkan Saudara serta mengawasi segala sesuatu yang berkenaan dengan Saudara. (FAYH)
"Every time a man knocks on a brothel door, he is really knocking for God." (Gilbert K. Chesterton)
~ JP