
Belakangan ini muncul dua peristiwa yang memancing emosi banyak orang. Di satu sisi, ada pernyataan yang dianggap merendahkan iman Kristen. Di sisi lain, terungkap perilaku mahasiswa yang melecehkan perempuan—bahkan dalam lingkup yang seharusnya menjunjung intelektualitas dan etika.
Dua kejadian berbeda, tetapi memiliki akar yang sama: hilangnya rasa hormat terhadap kebenaran dan martabat manusia.
Sebagai orang percaya, respons pertama kita sering kali adalah marah. Itu manusiawi. Tetapi pertanyaannya bukan apakah kita tersinggung—melainkan bagaimana kita merespons seperti Kristus.
Yesus sendiri tidak asing dengan diperlakukan dengan tidak benar. Ia difitnah, disalahpahami, dihina secara terbuka, bahkan diludahi. Namun, respons-Nya berbeda daripada pola dunia.
1 Petrus 2:23 (TB2), "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia yang menghakimi dengan adil."
Ini bukan berarti Yesus diam terhadap kejahatan. Ia tetap menyatakan kebenaran dengan tegas. Tetapi Ia tidak membiarkan kebencian menguasai hati-Nya.
Dalam kasus pelecehan terhadap perempuan, Alkitab sangat jelas: setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Artinya, merendahkan orang lain—terutama secara seksual—bukan sekadar pelanggaran sosial, tetapi pelanggaran terhadap gambar Allah itu sendiri. Orang percaya tidak boleh diam terhadap ketidakadilan, tetapi juga tidak boleh membalas dengan cara dunia.
Paulus menuliskan keseimbangan ini dengan sangat tepat: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Roma 12:21, TB2). Mengalahkan kejahatan bukan berarti kompromi, tetapi menolak ikut bermain dengan cara yang sama.
Kasih di sini bukan perasaan lembut tanpa sikap. Kasih adalah keberanian untuk berdiri pada kebenaran, tanpa kehilangan hati yang bersih.
Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kita dipanggil untuk tiga hal: menjaga hati, menyatakan kebenaran, dan menghormati martabat manusia. Kita tidak membiarkan iman dilecehkan tanpa respons, tetapi kita juga tidak merespons dengan kebencian. Kita tidak menutup mata terhadap pelecehan terhadap sesama, tetapi kita menghadapinya dengan cara yang mencerminkan Kristus.
Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang benar secara argumen. Dunia membutuhkan orang yang benar sekaligus penuh kasih.
"Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that." (Martin Luther King Jr.)
~ JP