
Tanggal 17 Agustus selalu mengingatkan kita pada satu kata: merdeka.
Kita membayangkan bendera merah putih berkibar, perlombaan, lagu-lagu perjuangan, dan kisah para pahlawan yang rela mengorbankan hidupnya agar bangsa ini bebas dari penjajahan.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang jarang kita renungkan: kalau sebuah bangsa sudah merdeka, apakah setiap orang di dalamnya otomatis hidup dalam kemerdekaan?
Mungkin jawabannya tidak juga.
Banyak orang hidup di negara yang merdeka, namun seolah tetap menjadi tawanan. Ada yang masih diperbudak oleh kemarahan. Ada yang tidak bisa lepas dari pornografi. Ada yang dikuasai uang. Ada yang hidup hanya untuk pengakuan orang lain. Ada yang terus dihantui rasa bersalah karena masa lalunya. Ada yang tampak tersenyum di luar, tetapi sebenarnya dibelenggu kecemasan setiap hari.
Kita mungkin telah bebas dari penjajahan manusia, tetapi belum tentu bebas dari penjajahan dosa.
Yesus berkata, "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu benar-benar merdeka" (Yohanes 8:36, TB2).
Perhatikan kata-kata Yesus. Bukan merasa merdeka. Bukan terlihat merdeka. Melainkan benar-benar merdeka.
Dunia mungkin menawarkan banyak bentuk kebebasan. "Lakukan apa saja yang kamu mau." "Ikuti kata hatimu." "Jangan biarkan siapa pun mengatur hidupmu." Sekilas terdengar membebaskan. Namun, firman Tuhan menunjukkan bahwa ketika manusia selalu mengikuti keinginan hatinya sendiri, ia perlahan menjadi budak dari keinginannya itu.
Dosa mungkin selalu datang membawa janji kebebasan, tetapi akhirnya mengambil kebebasan itu kembali.
Tuhan tidak membebaskan kita untuk berbuat sesuka hati, tetapi membebaskan kita untuk menjadi seperti yang sejak semula Allah rancangkan. Seperti halnya seekor burung paling bebas bukan ketika berenang seperti ikan, ataupun seekor ikan paling bebas bukan ketika memanjat pohon, melainkan mereka paling bebas ketika hidup sesuai tujuan Penciptanya. Demikian juga manusia.
Kemerdekaan yang sejati bukan hidup yang tanpa Tuhan. Kemerdekaan sejati ialah hidup yang sesuai tujuan Sang Pencipta kita. Kemerdekaan yang sejati juga ketika kita melayani orang-orang lain dalam kasih.
Bagaimana dengan saya dan Saudara, sudahkah kita benar-benar merdeka—merdeka dari perbudakan dosa ataupun hal-hal yang membelenggu lainyya seperti ego kita, ambisi pribadi, maupun uang serta segala sesuatu yang berbau serba materi?
Roma 6:18, 22 (FAYH), "Sekarang Saudara telah bebas dari tuan yang lama, yaitu dosa, dan Saudara telah menjadi hamba tuan yang baru, yaitu kebenaran … Tetapi sekarang Saudara telah bebas dari kuasa dosa dan menjadi hamba Allah, dan rahmat-Nya kepada Saudara mencakup kesucian dan hidup kekal."
And having been set free from sin, you have become the servants of righteousness (of conformity to the divine will in thought, purpose, and action). But now since you have been set free from sin and have become the slaves of God, you have your present reward in holiness and its end is eternal life. (AMP)
I also thank God that you have been freed {that he has freed you} frombeing controlled by a desire to sin and that you have become as though you were slaves to living righteously. But you have been freed {God has freed you} from letting the desire to sin control you. You have become as though you were the slaves of God. So now the result is that God has caused you to completely belong to him and, as a result, you will live eternally. (DEIBLER)
Hari Kemerdekaan mengingatkan kita betapa mahal harga sebuah kebebasan. Ribuan orang rela kehilangan nyawa agar sebuah bangsa merdeka. Demikian pula kemerdekaan rohani kita. Harganya sangat mahal, yaitu darah Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.
Karena itu, marilah kita merayakan kemerdekaan Indonesia dengan penuh syukur. Namun jangan berhenti di situ. Pastikan juga kita sungguh-sungguh mengalami kemerdekaan yang sejati, yang tidak dapat diberikan oleh negara manapun ataupun tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Sebab hanya ketika Kristus menjadi Tuhan dan Raja atas hidup serta hati kita, barulah kita dapat meyakini serta berkata, "Aku benar-benar merdeka."
~ JP