
Di tengah mengikuti sebuah pembahasan mengenai suatu topik, muncul berbagai hal yang terasa sensasional, terutama secara ilmiah. Jujur, sebagian dari hal-hal itu memang menarik bagi saya, apalagi saya juga suka belajar sejarah, arkeologi, dan latar belakang Alkitab.
Namun di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan di hati saya: Apakah saya sedang mencari tentang Tuhan Yesus dan mengenal-Nya lebih lagi, atau sedang mencari sesuatu yang terdengar lebih menarik daripada Dia?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat penting. Karena sejak dahulu, manusia selalu tertarik pada hal-hal yang misterius. Kita suka menemukan sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Kita suka merasa memiliki informasi khusus yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Ada sensasi tertentu ketika kita merasa telah menemukan rahasia yang tersembunyi.
Ternyata hal seperti ini juga pernah terjadi pada zaman gereja mula-mula. Paulus harus berulang kali mengingatkan jemaat agar tidak terjebak dalam spekulasi, cerita-cerita tambahan, atau hal-hal yang memuaskan rasa ingin tahu tetapi tidak menghasilkan pertumbuhan rohani.
1 Timotius 1:4 (TB2), "Janganlah memperhatikan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang hanya mendatangkan persoalan belaka dan bukan tata hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman."
Katakan kepada mereka supaya jangan lagi menaruh perhatian pada dongeng-dongeng dan cerita-cerita asal-usul yang tidak putus-putusnya. Semuanya itu hanya menimbulkan pertengkaran saja, dan tidak memajukan rencana Allah yang hanya dapat dikenal melalui percaya kepada-Nya. (BIS)
Nor to give importance to {or} occupy themselves with legends (fables, myths) and endless genealogies, which foster {and} promote useless speculations {and} questionings rather than acceptance in faith of God's administration and the divine training that is in faith (in that leaning of the entire human personality on God in absolute trust and confidence). (AMP)
Apparently some people have been introducing fantasy stories and fanciful family trees that digress into silliness instead of pulling the people back into the center, deepening faith and obedience. (MSG)
Perhatikan, Paulus tidak mengatakan bahwa belajar itu salah. Ia tidak melarang orang berpikir. Ia sendiri adalah seorang yang sangat terpelajar. Tetapi, Paulus memahami ada perbedaan besar antara pengetahuan yang membawa kita kepada Kristus, dan pengetahuan yang sekadar memuaskan dahaga rasa ingin tahu.
Pengetahuan biasanya membuat kita sombong. Kasih lebih penting daripada pengetahuan, karena kasih membuat kita saling membangun (1 Kor. 8:1). Jadi, bahayanya bukan pada pengetahuannya, melainkan pada hati manusia yang bisa mulai merasa lebih rohani, lebih pintar, atau lebih istimewa karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain.
Dan bukankah menarik sekali bahwa Paulus, yang mungkin mengetahui lebih banyak hal rohani daripada siapa pun pada zamannya, akhirnya berkata: "Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" (1 Korintus 2:2, TB2).
Pada waktu itu, saya tidak berbicara dengan kata-kata yang hebat. Saya juga tidak memakai pengetahuan yang biasanya dipakai orang di dunia. Sebab, saya sudah bertekad bahwa selama saya berada di antara kalian, saya mau mengingat hanya Yesus Kristus, terutama kematian-Nya di salib. Semua hal lain saya lupakan. (BSD)
For I resolved to know nothing (to be acquainted with nothing, to make a display of the knowledge of nothing, and to be conscious of nothing) among you except Jesus Christ (the Messiah) and Him crucified. (AMP)
Tidak semua hal yang menarik itu penting. Tetapi Yesus selalu penting, bahkan ketika dunia menganggap-Nya tidak menarik. Dan kiranya segala pengetahuan membawa kita semakin dekat kepada Kristus.
"I do not know what I may appear to the world, but to myself I seem to have been only like a boy playing on the seashore, and diverting myself in now and then finding a smoother pebble or a prettier shell than ordinary, whilst the great ocean of truth lay all undiscovered before me." (Isaac Newton)
~ JP