
Saya cukup takjub dengan karya-karya konstruksi, salah satunya ialah pada hasil pembangunan jalan-jalan tol. Seperti salah satunya ada sebuah jalan tol baru yang berhasil dibangun juga di atas sebuah jalan tol yang ada di Jakarta.
Karena hampir setiap minggu berkendara melewati dan mengamati progresnya, terutama ketika hampir menyambung, sempat tersirat dalam benak seandainya kedua ujung untuk titik temu menyatu guna pembangunan jalan tol di atas jalan tol tersebut berbeda selisih perhitungan sedikit saja—meski pasti para pembangunnya telah memperhitungkan dengan begitu cermat dan teliti untuk segala sesuatunya—akan sangat lucu karena sia-sialah pembangunannya.
Dalam kaitan dengan kehidupan rohani, pernahkah merasa bahwa kita sudah begitu dekat dengan Tuhan, melakukan berbagai kegiatan yang terlihat rohani, namun ternyata kita masih memiliki kehendak-kehendak diri sendiri, terutama keinginan-keinginan yang sebenarnya bertentangan dengan-Nya dan tidak menyenangkan hati-Nya? Ibarat akhirnya kedua ujung pembangunan jalan tol yang tidak menyambung secara pas sempurna. Bahkan mungkin malah makin menjauh.
Janganlah kiranya kita sampai seperti demikian.
Alangkah indahnya bila kita berjalan seirama dengan kehendak Tuhan, dan berusaha melakukan apa pun yang menyenangkan hati-Nya. Apa pun yang kita kerjakan untuk menyenangkan hati Tuhan pastilah baik adanya.
Roma 15:3a (TSI), "Karena selama Kristus berada di dunia ini, Dia tidak hidup untuk menyenangkan diri-Nya sendiri."
Sebab, Kristus sendiri tidak memikirkan kesenangan diri-Nya. (BSD)
That's exactly what Jesus did. He didn't make it easy for himself by avoiding people's troubles, but waded right in and helped out. (MSG)
Janganlah sampai menjadi seperti kedua ujung pembangunan jalan tol yang tidak menyambung secara pas sempurna, dan tidak berguna.
~ FG