
Ada seorang pensiunan guru yang di masa tuanya aktif membimbing para remaja di kampungnya. Ia sedang menolong seorang remaja yang terperangkap dalam pergaulan buruk.
Dengan setia ia memberikan pendampingan lewat teladan hidupnya yang jujur dan penuh kesabaran. Lambat laun, anak muda tadi itu menyadari kesalahannya serta berubah.
"Pak Guru memberi saya mata untuk melihat hidup yang benar," kata anak itu.
Tanpa banyak kata, keteladanan hidup sang guru pun telah membuka mata anak itu yang selama ini juga mengalami "buta rohani".
Kita hidup di tengah dunia yang mungkin sedang sesak oleh kerusakan moral, dan banyak orang mengalami kebutaan rohani. Mereka tidak tahu arah hidup yang benar, tidak mengenal kebenaran, dan berjalan menuju kebinasaan.
Sebagai orang-orang yang telah dicelikkan mata rohaninya oleh Kristus, kita dipanggil untuk menjadi terang yang membuka mata hati orang-orang yang buta akan kebenaran.
Namun, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga lebih pada melalui tindakan nyata, adanya integritas, punya kepedulian, serta kasih yang dapat dirasakan.
Keteladanan hidup kita akan menjadi sorot mata tajam yang menjangkau bagi mereka-mereka yang belum melihat terang Kristus. Sudahkah kita melakukannya? Ataukah justru kita yang masih mengalami buta rohani?
Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta. (Yesaya 42:6-7a)
~ Deliana Marpaung