Mengapa manusia selalu mencari figur dan tempat berlindung?
Sebab, secara biologis dan psikologis, kebutuhan manusia untuk mencari tempat perlindungan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan merupakan rancangan alami yang diciptakan oleh Tuhan, melalui struktur otak manusia yang dikenal sebagai Attachment System (Sistem Kelekatan).
Kebutuhan rasa aman ini diatur oleh interaksi berbagai bagian otak dan sistem hormonal, seperti:
• Amygdala (Pendeteksi Rasa Aman):
Berfungsi sebagai alarm keamanan otomatis di dalam otak. Amygdala bertugas mendeteksi adanya bahaya, ancaman, atau ketidaknyamanan, lalu mengaktifkan respons emosional, misal rasa takut, cemas, serta stres.
• Hipokampus:
Mengingat serta memproses pengalaman masa lalu untuk menilai apakah situasi saat ini tergolong aman ataukah berbahaya.
• Hypothalamus (Pengatur Hormon Stres):
Mengaktifkan respons fisik tubuh ketika merasa tidak aman. Saat stres aktif, hormon kortisol meningkat, menyebabkan detak jantung naik, tubuh berada pada kondisi siaga. Sebaliknya, ketika merasa tenang serta aman, hormon oksitosin dilepaskan untuk menurunkan kortisol, memperlambat detak jantung, serta memberikan efek rileks.
• Brainstem:
Mengatur respons otomatis bertahan hidup (survival response), yaitu fight atau melawan, flight atau lari, maupun freeze atau tidak dapat melakukan apa-apa.
• Oxytocin (Oksitosin):
Hormon yang dilepaskan saat seseorang merasa aman dalam pelukan, kasih, dan kehadiran yang konsisten. Hormon ini menurunkan tingkat stres serta menimbulkan rasa tenang maupun percaya.
• Prefrontal Cortex:
Area otak yang aktif saat kebutuhan emosional dan rasa aman terpenuhi. Area ini membantu manusia untuk berpikir jernih, mengelola emosi, serta membuat keputusan yang baik.
Pola perkembangan Attachment System ini berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia. Kebutuhan akan rasa aman tidak pernah hilang, hanya objek kelekatannya saja yang berubah seiring bertambahnya usia, yaitu
- Bayi: Mencari rasa aman pada sosok ibu.
- Anak-anak: Mencari perlindungan pada orangtua.
- Remaja: Mencari penerimaan dan keamanan pada sahabat.
- Dewasa: Mencari rasa aman pada pasangan hidup.
- Fase Lanjutan: Mencari pemimpin atau tokoh, mengejar jabatan, hingga mengumpulkan uang atau kekayaan materi demi keamanan hidup.
Dampak pengalaman rasa aman ini sangat menentukan perkembangan emosional:
1. Rasa Aman yang Konsisten:
Membantu otak berkembang lebih sehat, mempermudah pengaturan emosi, serta membangun hubungan sosial, dan kemampuan menghadapi stres dengan baik.
2. Ketidakamanan yang Tidak Konsisten:
Menyebabkan kecemasan berkepanjangan, kesulitan mempercayai orang lain, dan dorongan terus-menerus untuk mencari kepastian dari luar.
FENOMENA SALAH TEMPAT BERLINDUNG (FALSE REFUGE)
Manusia sering terjebak pemikiran: "Kalau saya punya [uang/jabatan/pasangan/popularitas], aku pasti akan tenang." Namun, ketika rasa aman itu diletakkan pada sesuatu yang fana dan bisa berubah, manusia akan mengalami penderitaan emosional dan secara rohani.
• Runtuhnya Sandaran yang Fana:
Selama rasa aman diletakkan pada objek yang fana, seperti pasangan, pemimpin, institusi, karier, atau kesehatan, maka hati manusia akan terus berpindah-pindah mencari tempat berlindung. Ketika sandaran tersebut runtuh atau mengecewakan, sistem alarm otak (amygdala) kembali aktif dan memicu pertanyaan keputusasaan: "Kalau dia saja mengecewakan, lalu aku harus percaya kepada siapa?!"
• Akar Historis Ketakutan Manusia:
- Sebelum Jatuh ke Dalam Dosa:
Manusia (Adam) tidak pernah hidup dalam ketakutan, kecemasan akan masa depan, rasa ditolak, atau tuntutan untuk membuktikan diri. Ini terjadi karena Adam setiap hari berjalan langsung bersama Allah sebagai sumber rasa aman yang sejati.
- Setelah Jatuh ke Dalam Dosa (Kejadian 3:10b): Ketika dosa masuk, hal pertama yang muncul bukanlah kematian fisik, penyakit, atau kemiskinan, melainkan ketakutan. Adam menjawab panggilan Tuhan dengan, "...aku menjadi takut... sebab itu aku bersembunyi." Dosa merusak hubungan yang menjadi sumber rasa aman utama, menyebabkan manusia menjauh dari Allah, dan terus-menerus mencari kembali apa yang hilang sejak dari Taman Eden.
Pelajaran dari Sejarah Israel:
Israel menuntut memiliki seorang raja agar bisa menjadi tempat berlindung mereka.
1 Samuel 8:7
TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.”
Dosa besar mereka adalah meminta manusia mengisi posisi yang sesungguhnya hanya layak ditempati oleh Tuhan. Sejarah membuktikan, tidak satu pun manusia mulai raja Saul, Daud, Salomo, hingga raja-raja berikutnya yang mampu menjadi sumber rasa aman yang sempurna bagi bangsanya.
Pengharapan yang Keliru Terhadap Sosok Pemimpin:
Pada zaman Perjanjian Baru, banyak orang mengikuti Yesus bukan karena mencari Juruselamat secara rohani, melainkan mencari raja secara politik versi mereka yang diharap dapat mengusir penjajahan Romawi. Ketika Yesus tidak memenuhi harapan mereka, orang-orang yang sama yang berseru "Hosana!", beberapa hari kemudian berteriak, "Salibkan Dia!" Ini menunjukkan, bersandar pada figur manusia atau ekspektasi duniawi selalu berujung pada kekecewaan.
TUHAN SEBAGAI SATU-SATUNYA TEMPAT BERLINDUNG SEJATI
Segala sesuatu di dunia ini seperti jabatan, uang, popularitas, gelar akademis, pasangan, maupun pengikut (followers), sifatnya sementara, dan bisa hilang sewaktu-waktu. Karena itu, Tuhan sering mengizinkan manusia atau fasilitas duniawi mengecewakan kita sesungguhnya dengan tujuan mulia:
Tongkat yang kita pegang patah supaya kita belajar memegang tangan-Nya. Pintu manusia tertutup agar kita melihat bahwa pintu surga masih selalu terbuka. Semua sandaran kita runtuh supaya kita menemukan Batu Karang Teguh yang tidak pernah terguncang. Jadi, hati manusia diciptakan terlalu besar untuk dapat ditenangkan oleh sesuatu yang lebih kecil daripada Tuhan.
MAKNA PERLINDUNGAN TUHAN
Mazmur 118:8
Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.
Sejarah manusia sering mengulang kesalahan yang sama dengan bersandar pada sesama manusia, tetapi firman-Nya tetap kekal, dan tidak berubah.
Arti kata "berlindung" (hāsāh / khasah) pada ayat di atas, dalam bahasa Ibrani, kata itu berasal dari kata חָסָה (hāsāh), yang berarti lari kepada seseorang yang cukup kuat untuk menyelamatkan kita. Seseorang yang hidupnya terancam, tidak akan mencari tempat yang sekadar indah, melainkan mencari benteng yang teguh.
Mazmur 57:2
Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.
Mazmur 91:4
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
Jiwa kita dapat berlindung dalam naungan dan kepak sayap-Nya. Kesetiaan Tuhan adalah perisai dan pagar tembok yang melindungi. Seperti anak burung yang berlindung di bawah sayap induknya, dan domba yang mencari gembalanya saat bahaya mengancam, demikian pula jiwa manusia seharusnya lari mencari Tuhan kita.
Mazmur 46:2
Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
Akhirnya, meski hidup manusia sering kali diwarnai proses transformasi, pencapaian karier, kesehatan, dan selebrasi atau merayakan pemulihan tubuh, kesuksesan, serta pencapaian, namun di atas pernak-pernik kehidupan itu, kedamaian sejati hanya dapat kita temukan ketika kembali pada rancangan awal penciptaan, menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan utama, satu-satunya Pelindung yang sejati (Our Only Refuge).
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



