
Matius 5:39 (TB2), "Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."
Sekilas, mungkin terdengar seperti perintah untuk pasif, lemah, dan membiarkan diri disakiti tanpa batas. Banyak orang akhirnya berpikir bahwa menjadi pengikut Kristus, berarti tidak boleh membela diri, tidak boleh menetapkan batasan, dan harus menerima perlakuan tidak adil terus-menerus.
Namun, jika kita melihat konteks budaya saat itu, "menampar pipi kanan" bukan sekadar tindakan kekerasan brutal. Dalam budaya Yahudi abad pertama, tamparan pada pipi kanan biasanya dilakukan dengan punggung tangan—sebuah penghinaan, bukan serangan untuk melukai secara fisik.
Yesus sedang berbicara tentang respons terhadap penghinaan dan ketidakadilan pribadi, bukan tentang membiarkan kekerasan sistematis atau penyiksaan berulang.
Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi korban tanpa batas. Ia mengajarkan kita untuk tidak membalas dengan pola yang sama. Mengampuni berarti memutus siklus balas dendam, bukan mengizinkan kejahatan terus berlangsung atau berulang-ulang.
Alkitab secara keseluruhan menegaskan bahwa kejahatan tetap kejahatan. Paulus menulis:
"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan." (Roma 12:21, TB2)
Perhatikan, "kalahkan", bukan "biarkan". Kebaikan bukan kelemahan; itu adalah sebuah kekuatan moral yang menolak membalas dengan racun yang sama.
Mengampuni juga bukan berarti tidak menetapkan batas. Yesus sendiri beberapa kali menarik diri dari orang-orang yang ingin menyakiti-Nya (Yohanes 8:59). Ia mengampuni, tetapi Ia tidak menyerahkan diri pada kekerasan sebelum waktunya. Bahkan ketika disalibkan, pengampunan-Nya tidak berarti Ia menyetujui ketidakadilan itu. Ia berkata:
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34, TB2)
Pengampunan adalah sikap hati di hadapan Allah, bukan pembenaran atas tindakan salah.
Mari kita ambil contoh yang lebih membumi. Seorang istri yang mengalami perlakuan kasar terus-menerus, tidak dipanggil untuk diam dan senantiasa menerima kekerasan atas nama mengampuni. Mengampuni berarti tidak menyimpan kebencian yang menghancurkan dirinya, tetapi dia tetap boleh mencari perlindungan, meminta pertolongan, dan menetapkan batas demi keselamatan. Pengampunan tidak meniadakan keadilan, melainkan membersihkan hati dari kepahitan.
Yesus juga mengajarkan prinsip emas:
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12, TB2)
Mengampuni berarti kita memilih bertindak sesuai karakter Kristus, bukan mengikuti emosi yang terluka. Masalah terbesar dalam mengampuni bukan pada tindakan orang lain, tetapi pada reaksi hati kita. Ketika kita menyimpan dendam, kita tetap terikat pada peristiwa itu. Pengampunan membebaskan kita dari penjara batin, bahkan jika orang yang menyakiti belum berubah-berubah.
Mengampuni tidak berarti lemah. Mengampuni adalah keputusan sadar untuk berkata: aku tidak akan membiarkan kejahatan membentuk karakternya di dalam diriku.
Hari ini, kiranya kita memahami pengampunan dengan benar, jauh dari kepahitan, namun tetap menerima hikmat untuk menetapkan batasan yang sehat. Kita membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan karena lemah, melainkan karena kita lebih sangat percaya pada Allah, Hakim yang adil, yang akan membela dan menolong kita pada waktu-Nya.
~ JP