
Ada sebuah cerita sederhana dari hutan.
Seekor singa yang sangat ditakuti memerintahkan setiap hari satu hewan datang menghadapnya sebagai tanda tunduk. Suatu hari, giliran seekor kelinci kecil, yang datang terlambat, berkata bahwa di jalan ada singa lain yang mengaku sebagai raja yang lebih hebat.
Ego sang singa langsung tersulut, dan meminta ditunjukkan di mana musuh itu berada. Lalu kelinci membawanya ke sebuah sumur dengan air yang sangat jernih. Ketika singa melihat ke dalam, ia melihat seekor singa lain menatapnya. Ia mengaum, bayangannya mengaum kembali. Ia marah dan melompat untuk menyerang "musuhnya"—tanpa sadar bahwa yang dilawan hanyalah bayangannya sendiri.
Cerita seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Banyak konflik, keputusan buruk, bahkan hubungan yang rusak bukan karena musuh yang nyata, melainkan karena ego yang mengambil alih pikiran kita. Ketika kita merasa tersinggung, diremehkan, atau ingin membuktikan diri, kita mulai bereaksi tanpa berpikir jernih.
Alkitab sudah lama memperingatkan tentang hal ini. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Amsal 16:18, TB2). Pdt. Niko Njotorahardjo juga akhir-akhir ini sering mengingatkan kita untuk menurunkan ego kita.
Kembali pada singa tadi. Sebenarnya tidak ada hewan lain yang mampu mengalahkannya. Namun, kekuatan itu tidak berarti apa-apa ketika egonya menguasai. Sering kali juga Iblis mungkin bekerja dengan cara yang sama, tidak perlu menjatuhkan kita dengan dosa besar, melainkan hanya perlu menyalakan sedikit saja api ego—rasa tersinggung, kemarahan, atau keinginan untuk selalu benar. Ketika ego dan emosi mengambil alih, hikmat mulai menghilang. Bahkan tahukah Saudara bahwa EGO dalam bahasa Inggris bisa berarti: "Edging God out," atau menyingkirkan, mengeyampingkan Tuhan, dan kita mamajukan diri kita sendiri.
"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32, TB2)
Kerendahan hati bukan membuat kita kecil. Justru kerendahan hati menyelamatkan kita dari banyak keputusan bodoh yang lahir dari emosi sesaat. Sebab, kadang masalah terbesar dalam hidup kita bukanlah orang lain. Bukan keadaan. Melainkan "sumur ego" kita sendiri, melompat hanya untuk marah, lalu menyadari yang kita lawan hanyalah bayangan kita.
Ego mungkin membuat kita ingin selalu menang, namun kerendahan hati akan membuat kita tetap berjalan dengan Tuhan.
~ JP