
Beberapa waktu lalu, sempat ramai publik membicarakan sebuah video seorang ibu yang melakukan paparan terbuka soal paspor untuk anak-anaknya. Namun, mungkin ada kalimat yang semestinya tidak perlu beliau ucapkan, sebab setelah itu memicu reaksi keras dari banyak orang yang merasa tersinggung ataupun marah.
Namun, di balik kontroversi yang ada itu, satu sisi yang mungkin jarang dibicarakan, bahwa—terlepas dari salah ataupun benar—dia pun merupakan seorang ibu yang memikul ketakutan, trauma, dan kecemasan terhadap masa depan anak-anaknya.
Mungkin tidak ada niat dalam hatinya untuk meremehkan ataupun merendahkan pihak-pihak tertentu, apalagi sebuah negara tertentu, melainkan hanyalah kerinduan maupun keinginan yang kuat untuk melindungi masa depan anak-anaknya sebagai ibu yang peduli.
Dalam Alkitab pun sarat pengalaman orangtua yang bergumul antara mengendalikan masa depan anak dan menyerahkannya sepenuhnya kepada Allah. Salah satu cerita nyata adalah Hana, ibu dari Samuel.
Hana pun pernah hidup dalam tekanan serta ketidakadilan, namun ketika Tuhan memberinya seorang putra, Hana melakukan sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan naluri manusia pada umumnya, apalagi di masa-masa modern seperti saat ini: dia menyerahkan Samuel kembali kepada Tuhan.
1 Samuel 1:27–28 (TB2), "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku apa yang kuminta daripada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidupnya ia menjadi milik TUHAN."
Hana menyerahkan anaknya bukan karena tidak peduli, sebaliknya pasti peduli, dan dia tahu bahwa dirinya bukanlah pemilik maupun pemegang masa depan anaknya. Dia memilih percaya bahwa Tuhan lebih dari sanggup menjaga anaknya daripada dirinya sendiri. Penyerahan seperti itu bukan pelarian, tetapi sebuah tindakan iman.
Alkitab juga memberi peringatan lembut namun tegas kepada setiap kita, terkhusus para orangtua:
Mazmur 127:1 (TB2), "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya."
Bukan berarti meniadakan kerja keras manusia, melainkan kerja keras pada posisi yang benar. Usaha tanpa Tuhan berubah menjadi kecemasan. Perlindungan tanpa Tuhan berubah menjadi ingin mengendalikan segala sesuatu sendiri. Dan cinta tanpa penyerahan diri kepada-Nya berubah menjadi beban yang berat.
Kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian. Sistem bisa saja mengecewakan. Bahkan negara mungkin tidak selalu hadir seperti yang diharapkan. Namun, firman Tuhan mengingatkan, masa depan kita anak-anak-Nya ada di dalam tangan Tuhan.
Mazmur 37:5 (TB2), "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."
Bukan berarti pasif atau menutup mata terhadap tanggung jawab. Kita bekerja keras, sambil tetap menyerahkan hasilnya maupun masa depan kita kepada Tuhan. Dia setia.
Pun diingatkan, terutama tugas sebagai orangtua bukan sekadar mengontrol ataupun mengendalikan, melainkan lebih pada membantu membentuk iman anak-anak kita dan mengarahkan ke jalan hidup yang baik, agar ke manapun dan di manapun kelak mereka pergi atau berada, mereka tahu kepada Siapa mereka sesungguhnya seharusnya bersandar.
Amsal 23:18, "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."
"I don't put my trust in Washington. I don't put my trust in the United Nations. I don't put my trust in myself. I don't put trust in my money. I put my trust in the Lord Jesus Christ. When all the rest of it fails and crumbles and shatters, He'll be there." ~ Billy Graham
~ JP