
Ayub 42:10, "Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu."
Setelah Ayub berdoa bagi teman-temannya, TUHAN memulihkan keadaan Ayub, dan bahkan memberikan kepadanya kekayaan dua kali lipat daripada yang semula. (FAYH)
Saya cukup diberkati mendengar lagu pujian dari Don Moen, "Somebody's Praying for Me" yang bagian lirik berulangnya berbunyi:
Somebody's praying for me
Somebody's knocking on Heaven's door
Somebody's praying for me
Somebody's lifting me up to the Lord
I knew it had to be
Somebody down on their knees
Somebody praying for me
Atau dengan kata lain, bersyukurlah sepatutnya kita karena masih ada orang-orang juga yang mendoakan kita. Kita juga bisa saja meminta supaya didoakan—maupun mendoakan—bukan? Dan awal dari meminta bantuan doa ialah kerendahhatian.
Kita mungkin masih ingat cerita tentang seorang prajurit yang akhirnya memberanikan diri menerobos barisan musuh dan mengalahkan mereka pada suatu jam tertentu di siang hari. Mengapa? Ketika ditanya temannya ia berani maju seperti itu, karena ia percaya bahwa pada jam tersebut ibunya di rumah mendoakannya dan keselamatannya.
"Karena ibuku sedang mendoakanku di jam-jam segini."
Ada kuasa dalam doa. Terutama doa kita sebagai orang benar. Orang yang benar di hadapan Tuhan. Seperti halnya Ayub terhadap permohonan doa bagi sahabat-sahabatnya.
Semakin dekat seseorang dengan Tuhan, pasti semakin erat jam-jam doanya dengan Tuhan.
Seperti halnya meminta permohonan didoakan yang merupakan perihal umum di antara umat-Nya di dalam Perjanjian Baru, namun berdoa juga merupakan praktik yang teristimewa bagi rasul Paulus. Pengharapannya bukan terletak pada kekuatannya sendiri, tetapi pada kuasa Allah yang digerakkan oleh doa jemaat.
Filemon 1:22 (BIS), "Sementara itu, tolong sediakan kamar untuk saya di rumahmu, sebab saya harap Allah mengabulkan doa Saudara-saudara semuanya dan membawa saya kembali kepada kalian."
Sediakanlah tempat bagiku di rumahmu, karena aku berharap Allah akan menjawab segala doamu dan memperkenankan aku segera datang kepadamu. (FAYH)
At the same time prepare a guest room [in expectation of extending your hospitality] to me, for I am hoping through your prayers to be granted [the gracious privilege of coming] to you. (AMP)
Bahkan, hamba-Nya, John Wesley pernah membuat perenungan bahwa, "God does nothing except in response to believing prayer," atau ia yakin bahwa Allah pasti menjawab—apa pun itu bentuk jawabannya—serta sangat-sangat menghargai doa-doa umat-Nya.
Jadi, sudahkah kita berdoa? Atau lebih tepatnya, masihkah kita berdoa?
~ FG