
Matius 15:22, "Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: 'Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.'"
"Kasihanilah aku, ya Tuhan."
Perempuan Kanaan ini datang kepada Yesus dalam kondisi yang sangat-sangat terdesak. Anak yang ia kasihi sedang menderita hebat. Tidak ada solusi manusia yang bisa menolongnya lagi. Dalam keputusasaan itu, dia memilih satu hal yang benar: datang kepada Tuhan Yesus.
Menariknya, ia datang dengan pengakuan iman: "Anak Daud." Ini menunjukkan bahwa dia percaya Yesus adalah Mesias, sumber pertolongan sejati. Ia tidak datang dengan tuntutan, tetapi dengan permohonan: "Kasihanilah aku, ya Tuhan."
A woman from the group of people called Canaanites who live in that region came to the place where Jesus was staying. She kept shouting to him, "Lord, you are the descendant of King David, you are the Messiah! Have pity on me and my daughter! She is suffering very much because a demon controls her." (DEIBLER)
Bagaimana dengan kita? Sering kali kita mungkin mencoba menyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri terlebih dahulu, ataupun menyikapi dan merespons terhadap suatu keadaan dengan pemikiran dan perasaan kita sendiri. Kita berlari ke sana-sini, mencari bantuan dari manusia, bahkan mengandalkan logika kita sepenuhnya. Datang Tuhan kerap menjadi "opsi terakhir", bukan yang pertama.
Padahal, iman yang sejati dimulai bukan dari solusi, tetapi dari arah hati, kepada Siapa kita datang.
Perempuan Kanaan tadi, seorang asing, bukan Yahudi, mengajarkan bahwa tidak peduli seberapa hancur keadaan kita, kita selalu punya satu tempat untuk datang: Tuhan Yesus.
Hari ini, bawa pergumulan kita kepada Tuhan. Berharaplah hanya kepada-Nya.
Kuatkanlah Hatimu
Lewati Setiap Persoalan
Tuhan Yesus S'lalu Menopangmu
Jangan Berhenti Harap Pada-Nya
Tuhan Pasti Sanggup
Tangannya Takkan Terlambat Tuk Mengangkatmu
Tuhan Masih Sanggup
Percayalah Dia Tak Tinggalkanmu
(Mike Mohede & Maria Shandi)
~ FG