
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluh tentang seseorang yang sulit diajak bekerja sama dengannya. Setelah bercerita cukup panjang lebar, ia tiba-tiba berhenti sejenak, lalu berkata, "Aku masih mencari tahu, sebenarnya apa maksud Tuhan mempertemukan aku dengan orang seperti dia."
Kalimat itu terngiang di kepala saya.
Bukankah biasanya kita bertanya dengan cara yang berbeda?
"Mengapa Tuhan mengizinkan aku bertemu orang seperti ini?"
Kita berharap mendapat rekan yang mudah untuk diajak bekerja sama, pemimpin yang selalu mengerti, bawahan yang cekatan, pasangan yang selalu memahami, atau teman yang sejalan. Ketika kenyataannya berbeda, kita mulai berpikir ada sesuatu yang salah. Padahal, mungkin justru di situlah Tuhan sedang bekerja, ataupun mengajari kita supaya dapat belajar sesuatu darinya.
Amsal pun berkata, "Besi menajamkan besi."
Amsal 27:17 (TSI), "Seperti besi diasah dengan besi agar menjadi tajam, demikianlah sesama kawan saling mengasah agar semakin baik."
Sama seperti besi menajamkan besi, demikian pula orang saling menajamkan pikiran dalam pembicaraan yang akrab. (FAYH)
Sepotong besi menajamkan besi lainnya, demikian juga orang yang bersahabat saling mengingatkan. (VMD)
Menariknya, besi tidak diasah dengan kapas. Ketajaman pemikiran maupun pembentukan karakter lahir karena adanya "gesekan". Seperti halnya mungkin gesekan antara besi memang menimbulkan panas, bahkan kadang percikan api, tetapi tanpa itu mata pisau akan tetap tumpul.
Saya mulai melihat, menyadari bahwa ada orang-orang yang mungkin terkadang Tuhan hadirkan bukan terutama untuk membuat hidup kita nyaman, melainkan untuk membentuk karakter kita. Ada orang yang mengajar kita kesabaran, ada yang mengajar kita pentingnya perencanaan, ada yang mengajar kita mendengar, ada yang mengajar kita mengampuni, dan lainnya.
Bukan pula berarti kita harus membenarkan setiap tindakan yang salah, melainkan kita dapat memilih untuk bertanya, "Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam diriku melalui hal ini?"
Mungkin inilah cara Tuhan bekerja sampai hari ini. Ia mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda, bukan supaya kita serba serupa dalam semuanya, tetapi supaya kita bisa lebih saling memperlengkapi. Apa yang kurang pada kita dilebihkan, apa yang lebih pada kita, kita bagikan.
Karena sesungguhnya, perjumpaan-perjumpaan yang kita alami dalam hidup ini bukanlah kebetulan. Mungkin setiap orang yang Tuhan izinkan masuk ke dalam perjalanan hidup kita sedang membawa sebuah pelajaran. Demikian pula kita terhadap mereka.
~ JP