
Beberapa hari lalu, saya berdiskusi dengan seseorang. Di tengah obrolan, ia berkata, "Saya lebih menghargai satu kalimat yang lahir dari tulisan sendiri daripada satu halaman yang dibuat oleh mesin AI."
Saya mengangguk. Lalu saya menjawab, "AI tidak mungkin kita hindari. Yang penting, jangan sampai hidup kita diatur olehnya."
Sepulang dari percakapan itu, saya justru terus memikirkan kalimat kami. Rasanya tidak ada yang salah. Kami hanya sedang melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya manusia mungkin takut, was-was, ataupun segera menerima dan beradaptasi pada teknologi. Teknologinya sendiri tidak salah. Dulu mungkin orang khawatir kalkulator akan membuat anak-anak lupa berhitung. Lalu datang internet, dan orang berkata kita akan berhenti menghapal. Setelah itu, Google dianggap membuat manusia malas berpikir. Sekarang AI hadir, dan kekhawatiran baru muncul, misalnya nanti manusia tidak perlu lagi menulis, ataupun lainnya.
Saya tersenyum ketika menyadari satu hal. Selama ini yang berubah selalu alatnya. Yang diuji selalu manusianya. Palu bisa dipakai untuk membantu membangun rumah, tetapi juga bisa dipakai oleh orang untuk berkelahi. Pisau bisa saja dipakai guna menyiapkan makanan, tetapi juga mungkin pernah dipakai untuk mencelakakan orang lain.
Nah, bagaimana sikap manusia terhadap AI ataupun mesin sejenisnya? Apalagi kemungkinan AI akan mampu menentukan pilihan.
Paulus pernah menulis sesuatu yang mungkin juga relevan untuk zaman kita:
1 Korintus 6:12, "Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun."
Nah, apabila ada yang berkata, "Kita pengikut Kristus diperbolehkan berbuat apa saja!" Saya akan menjawab, "Ada benarnya, tetapi ingat bahwa tidak semua hal berguna. Jangan biarkan apa pun menjadi alat iblis untuk menguasai diri kita!" (TSI)
Saya dapat berbuat sekehendak hati, seandainya Kristus tidak mengatakan, "Jangan", tetapi beberapa hal tertentu tidak baik bagi saya. Sekalipun saya dibolehkan, saya tidak akan melakukannya kalau saya merasa bahwa hal itu mungkin menguasai saya, sehingga sukar bagi saya untuk melepaskannya. (FAYH)
Renungkanlah sejenak, mungkin bukan hanya tentang AI, namun terkait apa saja di hidup kita yang perlahan-lahan mengambil alih kendali hati kita. Adakah yang telah mengambil alih hati kita?
Pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya seberapa canggih alat yang kita pakai. Melainkan, bagaimana hati dan hidup kita di hadapan-Nya, dan apakah segala sesuatu yang kita lakukan telah menyenangkan hati-Nya, dan berguna serta menjadi berkat bagi banyak orang lainnya? Dan apakah di tengah semua teknologi yang serba ada, kita tetap mau mendengar suara Tuhan, mencari wajah-Nya, serta menaati kehendak-Nya?
"Money is a good servant, but a bad master." (Sir Francis Bacon)
~ JP