
Yang lebih menyedihkan, dalam artian yang kurang baik, daripada menipu orang lain ialah menipu, membohongi diri sendiri. Hal itu sama saja membodohi diri sendiri. Tetapi, itulah yang dikatakan oleh firman Tuhan apabila kita hanya menjadi pendengar firman Tuhan, dan bukan menjadi pelakunya, menaati firman-Nya.
Yakobus 1:22, "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."
Tetapi Firman itu harus kamu lakukan, bukan hanya didengar. Janganlah menipu diri sendiri dengan berpikir, "Bagi saya, mendengar Firman-Nya saja sudah cukup!" (TSI)
Dan ingatlah bahwa berita itu bukan hanya sekadar untuk didengar, melainkan untuk ditaati. Sebab itu, janganlah Saudara membohongi diri sendiri. (FAYH)
Orang beriman bukanlah orang yang menghapal ayat-ayat firman Tuhan saja, walaupun perlu juga untuk menghapal firman Tuhan supaya mengingatkan kita di saat-saat yang dibutuhkan. Bahkan orang Kristen sejati bukanlah dilihat dari berapa banyak ayat yang dihapalkannya, melainkan orang yang mempraktikkan firman Tuhan dalam hidupnya.
Iman juga sebenarnya bukan diukur dari berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk kegiatan-kegiatan rohani, walau bukan berarti aktif melakukan dan mengikutinya salah, namun masihkah kita juga memiliki waktu hubungan pribadi dengan Tuhan melalui saat teduh maupun pembacaan firman Tuhan dan doa, menikmati hadirat Tuhan?
Iman adalah soal bagaimana kita melekat dan menjalin hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan Yesus. Setiap hari.
Masihkah kita memiliki persekutuan yang pribadi dengan Tuhan? Sebab jika tidak, mungkin kita malah selalu membodohi diri sendiri, menipu, membohongi diri sendiri.
~ Yuliana Sondakh