
Lukas 19:10 (TB2), "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
For the Son of Man came to find and restore the lost. (MSG)
Remember this: I, the one who came from heaven, came to seek and save people like you who have gone astray from God, just like a shepherd who searches for his lost sheep. (DEIBLER)
Bayangkan, hidup selama puluhan tahun tanpa tahu bahwa di belahan dunia lain ada seseorang yang memiliki wajah yang identik, sama persis dengan kita. Golongan darah yang sama. Awal kehidupan yang sama. Tetapi, jalan hidup yang berbeda.
Dua orang gadis tumbuh di negara yang berbeda, budaya yang berbeda, keluarga yang berbeda. Lalu suatu hari, melalui sesuatu yang tampaknya biasa—sebuah unggahan video di internet—mereka menemukan satu sama lain.
Banyak orang menyebutnya kebetulan. Tetapi sebagai orang percaya, saya selalu tertarik pada pertanyaan: Mengapa hati kita begitu terharu ketika mendengar kisah orang yang ditemukan kembali?
Karena jauh di dalam hati manusia, ada kerinduan untuk pulang. Ada kerinduan untuk ditemukan. Ada kerinduan untuk kembali kepada asalnya.
Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Alkitab menggambarkan kita sebagai orang-orang yang tersesat, jauh dari rumah Bapa. Bukan karena Tuhan tidak tahu di mana kita berada. Tetapi, karena kitalah yang meninggalkan maupun menjauh. Namun, kabar baiknya adalah Tuhan tidak berhenti mencari.
Yesus menceritakan tentang domba yang hilang. Tentang dirham yang hilang. Tentang anak yang hilang. Menariknya, dalam semua perumpamaan itu, ada satu pola yang sama, bahwa yang hilang dicari. Tidak dilupakan. Tidak diganti. Tetapi, dicari.
Lukas 15:5 (TB2), ""Apabila ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira."
Sesudah menemukannya, dengan sangat gembira dia mengangkat domba itu, menggendongnya di atas bahunya, dan membawanya pulang. (TSI)
Lalu dengan sangat gembira kalian akan memanggulnya pulang. (FAYH)
Perhatikan, bukan marah. Bukan menghakimi. Bukan mempermalukan. Tetapi, bersukacita. Itulah hati Allah Bapa kita. Kadang kita merasa terlalu jauh dari Tuhan. Terlalu banyak kesalahan. Terlalu lama menjauh. Terlalu rusak untuk kembali. Tetapi, kisah-kisah seperti ini mengingatkan sesuatu yang indah, jika manusia saja bisa dipertemukan kembali setelah puluhan tahun terpisah, apalagi Tuhan yang tidak pernah kehilangan jejak anak-anak-Nya.
Mungkin hari ini ada yang merasa jauh dari Tuhan. Mungkin masih datang ke gereja, tetapi hati sudah lama pergi. Mungkin masih berdoa, tetapi rasanya kosong. Mungkin masih melayani, tetapi kehilangan sukacita.
Kabar baiknya, Bapa masih mencari. Dia tahu persis di mana menemukan setiap kita. Ia tidak sedang menunggu kita menemukan-Nya. Justru Dia yang lebih dahulu mencari kita. Bersyukur karena Ia tidak pernah berhenti mencari, bahkan ketika kita menjauh. Biarlah hati kita pun mengalami sukacita yang penuh sebagai anak yang ditemukan kembali, dan sangat, sangat, sangat dikasihi oleh Bapa.
~ JP