
Filipi 3:13b, (TB2), "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku."
Kalau waktu bisa diputar, apa yang kira-kira ingin kita ubah? Mungkin ada kata-kata yang tidak ingin jadi kita ucap. Mungkin ada hubungan yang ingin kita perbaiki. Mungkin ada kesempatan yang tidak ingin kita sia-siakan sebelumnya. Atau mungkin ada dosa yang tidak ingin pernah kita lakukan sebenarnya.
Belakangan, saya melihat sebuah video yang sangat menyentuh. Seorang pria berkata, "Seandainya waktu bisa diputar, aku akan memperbaiki semua kesalahanku." Lalu Yesus yang duduk di sampingnya berkata dengan lembut, "You have to forget." Pria itu menjawab, "How can I forget?" Yesus tersenyum dan berkata, "Don't live there. Look ahead."
Saya tahu, itu hanya ilustrasi. Tetapi kalimat terakhirnya terus terngiang di kepala saya. "Don't live there." Jangan tinggal di sana. Bukankah sering kali kita masih hidup di masa lalu? Tubuh kita ada di tahun ini. Tetapi hati dan pikiran kita masih berada pada satu keputusan yang salah. Satu kegagalan. Satu penyesalan. Satu dosa. Satu kehilangan. Di masa lalu. Di sana.
Paulus menulis, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku." Apakah Paulus benar-benar lupa? Tentu tidak. Ia masih ingat bahwa dahulu ia menganiaya jemaat Tuhan. Ia masih ingat Stefanus yang dirajam. Ia masih ingat siapa dirinya sebelum mengenal Kristus. Namun, Paulus memilih untuk tidak lagi "membangun rumah" di masa lalunya. Ia belajar melihat ke depan, karena ia tahu kasih karunia Allah jauh lebih besar daripada sejarah hidupnya.
Mungkin inilah salah satu kebohongan terbesar yang terus dibisikkan oleh Iblis kepada kita. "Kamu memang sudah diampuni, tapi jangan lupa siapa dirimu dulu." Sedangkan, Yesus berkata, "Kamu memang punya masa lalu. Tetapi, masa lalumu tidak lagi menentukan masa depanmu."
Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali. Namun, Yesus tidak pernah berkata, "Ayo kita bahas lagi kegagalanmu." Sebaliknya, setelah kebangkitan-Nya, Ia bertanya, "Apakah engkau mengasihi Aku?" Ia juga berkata, "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yesus selalu mengarahkan pandangan Petrus ke depan.
Bukan karena masa lalu tidak penting. Tetapi karena karya Tuhan Yesus di kayu salib telah mengubah arti masa lalu itu. Hari ini mungkin kita masih mengingat kesalahan yang sama. Masih menyesali keputusan yang sama. Masih bertanya tentang seandainya, seandainya, dan seandainya. Namun, mungkin Yesus pun duduk di samping kita sambil berkata dengan lembut, "Don't live there. Look ahead."
Tuhan Yesus tidak datang untuk menghapus sejarah, Ia datang untuk menebusnya.
~ JP