
Sebuah konsep dalam psikologi, ada yang disebut emotional bias. Sederhananya begini. Perasaan kita dapat mengubah cara kita melihat kenyataan. Ketika sedang marah, niat baik orang lain terasa seperti penghinaan. Ketika sedang takut, setiap kemungkinan buruk tampak pasti terjadi. Ketika sedang jatuh cinta, tanda-tanda bahaya sering kali tidak lagi terlihat.
Masalahnya, bukan karena kenyataan berubah. Yang berubah adalah cara kita memandangnya.
Amsal 28:26 (TB2), "Siapa yang percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan hikmat akan selamat."
Siapa mengandalkan pendapatnya sendiri, tidak punya akal yang sehat. Siapa mengikuti ajaran orang bijaksana akan selamat. (BIS)
Mengandalkan diri sendiri adalah ciri orang bebal, tetapi siapa yang hidup bijaksana akan dilindungi dari bahaya. (TSI)
If you think you know it all, you're a fool for sure; real survivors learn wisdom from others. (MSG)
Bukankah kita juga sering demikian dalam kehidupan rohani? Saat doa belum dijawab, kita merasa Tuhan tidak mendengarkan. Saat pelayanan tidak dihargai, kita merasa orang-orang tidak mengerti maupun melihat jerih payah kita. Saat mengalami kegagalan, kita merasa hidup kita tiada lagi berarti.
Padahal, sering kali yang berubah adalah perspektif kita, atau cara kita memandang sesuatu.
Karena itu, Alkitab berkali-kali mengingatkan agar kita tidak hidup dipimpin oleh perasaan atau hati yang mudah berubah-ubah, melainkan oleh Roh Kudus dan firman Tuhan yang pasti.
Yeremia berkata bahwa hati manusia dapat menipu. Amsal berkata bahwa orang yang percaya begitu saja kepada hatinya adalah orang yang bebal. Dan Paulus menuliskan buah Roh yang diakhiri dengan satu kualitas penguasaan diri. Kita bukannya kehilangan emosi atau tidak dapat lagi merasa. Melainkan, emosi ataupun sekadar perasaan itu tidak lagi membuat kita kehilangan kendali.
Orang yang dipenuhi oleh Roh Tuhan mungkin tetap bisa saja marah, tetapi tidak dikuasai oleh kemarahan. Tetap bisa saja sedih, tetapi tidak tenggelam dalam keputusasaan. Tetap bisa saja takut, tetapi tidak berhenti melangkah maju.
Dengan kata lain, kita bisa menunjukkan maupun mengalami sebuah perasaan maupun emosi, namun tidak membiarkan diri kita sepenuhnya dikuasai ataupun diambil alih olehnya, terutama ketaatan kita pada kehendak Allah. Mungkin itulah perbedaan terbesar antara hidup menurut perasaan, dan hidup menurut Roh.
Dan sebagai orang percaya, kita belajar setiap hari untuk tidak menyangkali perasaan kita, tetapi juga tidak menjadikannya kompas utama kehidupan. Karena kompas kita bukanlah emosi. Kompas kita adalah firman Tuhan dan tuntunan-Nya.
~ JP