📌 Ringkasan sebelumnya : Yehezkiel 28
Raja Tirus yang dinubuatkan di dalam perikop ini, dianggap mewakili kejatuhan kota Tirus. Tindakan pengangkatan dirinya sendiri yang sangat ambisius untuk menempati posisi Allah, sangat tepat menggambarkan kecongkakan hati bangsa itu.
Kawasan Tirus yang berada di atas sebuah gunung batu, telah membuat kota itu seolah-olah tidak dapat direbut sehingga Tirus merasa dirinya seperti Allah yang maha tinggi memerintah di sana. Perasaan aman tenteram melingkupi dirinya yang bertakhta di tengah-tengah lautan. Selain memiliki keterampilan berdagang yang menyebabkan Tirus menjadi milyuner pada masanya, ia juga memiliki hikmat yang besar dan tiada rahasia yang tersembunyi di hadapannya.
Dengan kelebihannya itu ia menjadi sombong sehingga Allah tidak menahan murka-Nya untuk ditimpakan kepada Tirus yang akan mati secara memalukan.Â
Ratapan untuk raja Tirus memakai suatu kisah di taman dan gunung Allah. Walaupun kisah yang diadopsi Yehezkiel bukan berasal dari kisah Kejadian 3 namun implikasinya adalah Tirus telah diciptakan dengan sempurna sejak hari penciptaannya. Namun patut disayangkan, ia menjadi sombong karena kecantikannya bahkan hikmatnya dimusnahkannya demi semaraknya.Â
Dampak pilihan Tirus yang ceroboh mengingatkan dunia bahwa hikmat jauh lebih berharga daripada permata. Karena daya tarik pujian, banyak orang rela melepaskan segalanya untuk mendapatkannya. Namun setelah mendapatkan apa yang diidamkannya, suatu bonus malapetaka yang tidak diundang pun datang menyapu bersih apa saja yang berkaitan dengan hasil kesombongan
📖 Pengantar Yehezkiel 29
Mesir yang sombong sombong dihukum Tuhan. Mesir adalah lambang kekuatan dan kejayaan pada zamannya. Namun yang dilihat manusia bukanlah kekuatan sebenarnya. Allah adalah sumber kekuatan sejati yang abadi, kekal, dan absolut. Di dalam Yesus Kristus, kehadiran Allah yang Maha Kuasa ini telah nyata. Kita dipanggil untuk tunduk pada kekuatan dan kehadiran Allah ini.