📌 Ringkasan sebelumnya : Yehezkiel 45
Guna kelangsungan ibadah di Bait Suci yang baru, umat Israel harus memberikan dua persembahan khusus. Yang pertama adalah sebidang tanah, yang dikhususkan untuk Bait Suci dan kediaman para pelayannya, yakni imam-imam dan orang Lewi. Bait Suci terletak di pusat, dikelilingi oleh kediaman imam-imam. Di luarnya tempat kediaman orang Lewi.Â
Seluruh wilayah Bait Suci ini merupakan wilayah yang kudus; kudus dalam arti "dikhususkan bagi Tuhan". Berbatasan dengan wilayah kudus adalah wilayah kota dan tanah milik raja. Penempatan kedua wilayah ini menekankan motif kekudusan: harus ada jarak antara kedua wilayah tersebut dengan Bait Suci. Manusia berdosa tidak boleh sembarangan mendekati tempat atau menjamah benda-benda yang kudus. Akan tetapi, Kristus melalui kematian-Nya di salib memperdamaikan manusia berdosa dengan Allah, sehingga "oleh darah Yesus kita sekarang dapat masuk ke tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri".
Allah yang kudus memanggil umat-Nya untuk menjadi umat yang kudus. Dalam amanat para nabi, respons terhadap panggilan tersebut diwujudkan dalam menerapkan keadilan sosial-ekonomi. Ibadah umat Allah tidaklah terpisah dari perilaku sosial-ekonomi yang adil, benar, dan jujur. Segala praktik perampasan, kekerasan, aniaya, dan kecurangan takaran serta timbangan, yang merajalela di masa pra pembuangan, harus dihentikan.
Persembahan khusus kedua berupa bahan-bahan untuk persembahan korban di Bait Suci. Korban-korban tersebut berfungsi untuk pendamaian bagi umat. Semua bahan tersebut disalurkan melalui raja. Dengan demikian, baik para imam maupun pemimpin negara atau masyarakat bersama-sama bertanggung jawab agar kehidupan umat Allah merefleksikan kekudusan-Nya.
📖 Pengantar Yehezkiel 46
Ibadah Israel dalam era baru merayakan kekudusan dan kemurahan Allah. Allah yang memulihkan mereka adalah Allah yang Maha Kudus, yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Akses menghadap Dia tetap tertutup. Berarti umat harus menjunjung tinggi kekudusan-Nya. Namun oleh kasih-Nya, Ia membuka akses itu pada hari Sabat hanya untuk raja. Itu pun hanya dilakukan raja di lorong gerbang.