📌 Ringkasan sebelumnya : Yohanes 8
Ketidaksukaan para pemuka agama terhadap Yesus masih berlanjut, sekalipun Hari Raya Pondok Daun sudah selesai. Mereka mencari cara dan alasan untuk menghukum-Nya. Caranya adalah membenturkan Yesus dengan hukum Musa.
Mereka membawa seorang perempuan yang tertangkap berzina ke hadapan Yesus, ketika Ia mengajar orang banyak. Mereka meminta pendapat Yesus apakah perempuan itu harus dilempari batu sesuai hukum Musa atau tidak. Jika Ia setuju, maka Yesus akan dilaporkan ke pemerintah Romawi karena melanggar hukum Romawi. Jika Ia tidak setuju, itu berarti Ia melanggar hukum Musa. Sungguh sebuah jebakan yang licik.
Namun, Yesus tidak menjawab mereka, melainkan membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah dan berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Jawaban yang tidak pernah mereka sangka. Yesus, satu-satunya yang tidak berdosa dan layak menghukum tidak melempar batu, tetapi berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai dari sekarang, jangan berbuat dosa lagi”.
Di satu sisi, Yesus mewakili Allah. Hanya Allah yang berhak menghukum dan memberikan pengampunan. Di sisi lain, Ia memaknai ulang Taurat. Ia menegaskan bahwa hukum Taurat diberikan untuk menuntun manusia kepada Allah, bukan sebaliknya. Dari perspektif Kristus sendiri, perkataan “Akulah Terang Dunia” dapat dipahami. Ia memaknai segala hal secara baru.
Hukum Taurat tidak menyelamatkan manusia, tetapi menuntun manusia kepada keselamatan Allah dalam Yesus. Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapinya. Yesus harus menjadi kaca mata bagi kita memahami hukum Taurat. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang legalis.
đź“– Pengantar Yohanes 9
Tuhan Yesus dan murid-murid melihat orang buta sejak lahirnya. Masyarakat melihat bahwa orang ini menjadi buta karena dosa. Masyarakat menganggap bahwa penderitaan adalah akibat dosa. Ini bisa benar. Namun, penderitaan dapat juga tidak ada hubungannya dengan dosa. Kedua hal ini merupakan ajaran Kitab Suci.
Yesus melihat penderitaan yang dialami oleh orang buta ini bukanlah disebabkan oleh dosa. Tuhan Yesus melihat rencana yang lebih besar. Penderitaan orang buta sejak lahir akan menjadi sarana untuk menyatakan pekerjaan Allah.