📌 Ringkasan sebelumnya : Yohanes 7
Manusia suka popularitas. Ia gemar pujian, tepuk tangan, persetujuan, atau sorak-sorai atas apa yang dilakukannya. Orang rela melakukan apa pun demi mewujudkan hawa nafsunya. Jika perlu, ia rela mengorbankan apa saja – termasuk iman dan integritasnya. Apa yang ditawarkan beberapa saudara-Nya kepada Yesus adalah popularitas. Mereka ingin mengembalikan popularitas Yesus setelah ditinggalkan banyak murid-Nya. Mereka mengusulkan agar Yesus pergi ke Yerusalem untuk menunjukkan berbagai perbuatan besar-Nya. Di Yerusalem akan ada perayaan Hari Raya Pondok Daun di mana orang Israel dari berbagai daerah akan berkumpul di sana. Popularitas-Nya akan kembali apabila Ia mengeskpos perbuatan-perbuatan-Nya secara terbuka di sana. “Tampakkanlah diri-Mu kepada dunia, ” kata mereka kepada Yesus.
Yesus menolak tawaran itu. Ia menjelaskan siapa diri-Nya, apa misi-Nya, dan bagaimana Ia menjalankan misi-Nya. Sebagai “Yang Kudus dari Allah”, Ia akan melakukan konfrontasi terhadap dunia dengan segala kejahatannya. Itu adalah pekerjaan yang sangat tidak populer. Yesus memang pergi ke Yerusalem, namun bukan dengan cara yang diusulkan oleh para saudara-Nya. Ia pergi secara diam-diam sampai orang-orang pun mencari-Nya. Ia menjauhi hiruk pikuk keramaian.
Yesus memilih jalan kesunyian. Ia melakukan hal-hal yang tidak populer. Ia tidak mengikuti suara orang banyak. Ia cenderung membenturkan mereka dengan kebenaran Allah. Ia tidak membiarkan sanjungan dan sorak-sorai orang banyak membelokkan misi-Nya. Sebaliknya, Ia memilih jalan yang banyak orang menolak untuk melaluinya.
Sebelumnya Yesus bertindak diam-diam. Sekarang Yesus bertindak terus terang. Jika sebelumnya, Yesus kelihatannya menghindari konflik, sekarang Yesus menghadapi konflik. Ia datang ke Bait Allah pada hari raya itu. Bait Allah juga adalah tempat keramaian dan berkumpulnya para pemuka agama Yahudi yang berniat membunuh-Nya.
Tidak hanya mendatangi tempat itu. Ia menarik perhatian orang banyak dan pemuka agama. Dalam Bait Allah, Ia mengajar dengan penuh otoritas sehingga para pemuka Yahudi menjadi keheranan. Ia menegaskan bahwa Ia adalah utusan Allah. Pada saat yang sama, Yesus menunjukkan borok para agamawan Yahudi bahwa sesungguhnya mereka tidak mengenal Allah. Ia mengecam perbuatan mereka yang menghakimi dengan tidak adil. Dasar tindakan-Nya adalah dalam diri-Nya sendiri hanyalah kebenaran Allah. Karena Ia mengenal Allah dan sedang menyatakan Allah yang sesungguhnya kepada dunia. Ia adalah utusan Allah yang berkata-kata dengan benar. Ia tidak mengurangi kebenaran, malahan menjelaskan secara gamblang.
đź“– Pengantar Yohanes 8
Usaha orang Farisi untuk mencelakakan Tuhan Yesus terus dilakukan tanpa henti. Bahkan demi menjerat Dia, mereka melakukan tindakan yang sangat memalukan, dengan maksud menguji-Nya, dan tanpa belas kasihan, menyeret perempuan yang tertangkap basah berzinah (dan membiarkan yang laki-laki pergi!) ke hadapan-Nya. Mata hati mereka yang buta hanya melihat satu hal: menghukum orang berdosa.