
Suatu senja, seorang rekan dari seorang penulis ternama, bercerita kepadanya mengenai salah satu pengalamannya selama masih menjadi seorang pecandu minuman beralkohol.
"Pernah ketika aku datang sangat terlambat masuk ke gereja, orang-orang langsung melihatku," ungkapnya, "sambil mengernyitkan dahi, seolah mereka mempertanyakan, menghakimiku mengapa aku datang begitu telat beribadah ke gereja."
Lanjutnya lagi menjelaskan, "Aku tahu bahwa aku memang mungkin tidak sebertanggungjawab mereka ataupun serajin mereka. Namun, kenapa berbeda sekali dengan ketika aku pernah sangat terlambat datang ke sebuah pertemuan AA (Alcoholic Anonymous), orang-orang yang ada justru berhenti sejenak, lalu menyambutku apa adanya."
AA atau Alcoholic Anonymous sendiri merupakan kelompok persaudaraan internasional pria dan wanita yang memiliki masalah dengan minuman keras. Kelompok ini bukan kelompok profesional, melainkan kelompok swadaya, multiras, apolitis (tidak berpolitik), dan tersedia hampir di mana saja di berbagai negara. Umumnya tidak ada batasan usia ataupun latar pendidikan. Keanggotaannya terbuka bagi siapa pun yang ingin mengatasi masalahnya dengan minuman keras.
Pungkas teman dari sang penulis tadi mengatakan, "Orang-orang di sana [di AA tadi] mungkin sangat memahami dan menyadari, bahwa kedatanganku, kehadiranku yang terlambat itu bisa saja merupakan tanda bahwa aku hampir saja tidak dapat datang, namun aku akhirnya sampai juga. Dengan datangnya aku di sana, itu menunjukkan bahwa sebenarnya aku sangat-sangat ingin hadir, dan ingin terlepas dari kecanduanku terhadap minuman keras."
Bagaimana dengan kita? Apakah kita mudah menghakimi dan menilai orang lain, berprasangka buruk terhadap mereka, ataukah mau berusaha untuk memahami terlebih dahulu, dan menyadari apa yang mungkin sedang ataupun telah dilalui oleh orang lain?
Bagaimana seandainya posisi kita adalah seperti pada seorang teman dari penulis tadi?
Yakobus 1:19 (TSI), "Karena itu, Saudara-saudari yang saya kasihi, hendaklah kamu semua membiasakan diri untuk menjadi pendengar yang baik. Jangan buru-buru bicara, dan jangan cepat marah."
Understand [this], my beloved brethren. Let every man be quick to hear [a ready listener], slow to speak, slow to take offense {and} to get angry. (AMP)
My fellow believers whom I love, you know (I want you to now) that every one of you should be eager to pay attention to God's true message. You should not hastily speak your own thoughts, nor be quick to get angry. (DEIBLER)
~ FG