
Kisah Para Rasul 16:31 (TB2), "Jawab mereka: 'Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.'"
Ayat firman Tuhan tersebut sering dikutip sebagai janji pengharapan bagi keluarga yang belum mengalami perubahan. Namun, ketika kita membaca konteksnya dengan jujur, ayat ini lahir bukan dari situasi yang tenang, melainkan dari krisis.
Paulus dan Silas berada di penjara. Gempa bumi mengguncang. Kepala penjara, yang ketakutan dan putus asa, bertanya dengan satu pertanyaan paling mendasar: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?" Jawaban Paulus tidak panjang, tetapi sangat tegas: percaya.
Kata "percaya" di sini bukan sekadar menyetujui sebuah kebenaran atau mengucapkan pengakuan iman. Dalam konteks Kisah Para Rasul, percaya berarti menyerahkan kendali hidup kepada Yesus. Percaya berarti bergantung penuh, bukan setengah-setengah. Ketika Paulus berkata, "engkau dan seisi rumahmu," ia tidak sedang menawarkan formula instan, melainkan menegaskan bahwa iman yang sejati memiliki dampak yang menjalar—dimulai dari satu hati yang sungguh-sungguh bersandar kepada Tuhan.
Di sinilah banyak orang berhenti terlalu cepat. Kita berdoa bertahun-tahun, tetapi diam-diam masih memegang kendali. Kita memohon perubahan, tetapi tetap mengukur hasil dengan standar dan waktu kita sendiri. Doa menjadi rutinitas, bukan penyerahan. Padahal, Alkitab mengajarkan bahwa doa yang sejati selalu berjalan seiring dengan iman yang percaya dan berserah.
Yesus sendiri menegaskan prinsip ini dengan sangat jelas:
Markus 11:24 (TB2), "Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."
Perhatikan urutannya. Bukan berdoa lalu menunggu bukti, tetapi percaya terlebih dahulu bahwa kita telah menerimanya. Ini bukan tentang memanipulasi Tuhan, melainkan tentang memindahkan pusat kepercayaan kita dari hasil yang terlihat, kepada Bapa yang setia. Doa tanpa percaya akan mudah berubah menjadi kelelahan rohani. Tetapi doa yang disertai iman melahirkan ketenangan, meskipun keadaan belum berubah.
Tugas kita ialah percaya, berserah, dan tetap setia. Ketika kita sungguh-sungguh bersandar pada Allah, kita belajar melepaskan kebutuhan untuk mengontrol, dan menggantinya dengan kepercayaan bahwa Tuhan bekerja melampaui apa yang dapat kita lihat.
Mungkin sampai hari ini perubahan itu belum tampak. Namun iman yang sejati tidak diukur dari cepatnya hasil, melainkan dari keteguhan bersandar. Bukan menjadi pasif, tetapi mengundang kita masuk ke dalam relasi yang lebih dalam dengan Tuhan—relasi yang berdoa, percaya, dan menyerahkan kendali penuh serta hasil sepenuhnya kepada-Nya.
~ JP