
Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara kedukaan selama tiga hari di rumah duka. Yang menarik, keluarga besar almarhum berasal dari berbagai latar belakang gereja. Sehingga, ibadah penghiburan dari hari pertama hingga penguburan diberikan oleh gereja di mana masing-masing anak berjemaat.
Cara penyampaiannya berbeda. Istilah yang digunakan juga berbeda. Namun, di balik semua perbedaan itu, saya menangkap satu benang merah yang sama. Semua khotbah itu sebenarnya sedang berbicara kepada orang yang masih hidup. Karena orang yang telah meninggal tidak lagi dapat mengubah keputusan hidupnya. Justru kita, para pelayat, yang masih diberi kesempatan.
Penulis Ibrani mencatat:
"Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibrani 9:27, TB2).
Ayat ini tidak ditulis untuk menakut-nakuti kita, melainkan mengingatkan kita bahwa hidup memiliki arah serta tujuan. Akan tiba saatnya setiap orang berdiri di hadapan Allah.
Yohanes 11:25 (TB2), "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati."
Keselamatan orang percaya tidak bertumpu pada seberapa banyak ia memahami apa yang terjadi sesudah kematian, tetapi pada kepada siapa ia mempercayakan hidupnya sebelum kematian itu tiba. Dan di rumah duka tadi, saya menyadari sesuatu, bahwa kematian memiliki cara yang unik untuk melucuti semua hal yang selama ini mungkin kita banggakan. Jabatan tidak ikut masuk ke dalam peti. Kekayaan tidak ikut dibawa. Popularitas berhenti di batu nisan.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan. Apakah saya sungguh-sungguh mengenal Kristus?
Bukan sekadar tahu tentang-Nya. Bukan sekadar lahir di keluarga Kristen. Bukan sekadar rajin ke gereja. Tetapi benar-benar telah menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita masing-masing. Karena pada akhirnya, keputusan kita terhadap Kristuslah yang menentukan ke mana kita pergi setelah mati nanti.
Mungkin itulah sebabnya, setiap kali menghadiri pemakaman, Tuhan sebenarnya sedang berkhotbah kepada orang-orang yang masih duduk di bangku pelayat. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Masih ada undangan untuk kembali kepada-Nya. Tetapi kesempatan itu tidak akan berlangsung selamanya.
Jadi, pemakaman bukan hanya mengenang orang yang telah pergi. Pemakaman adalah "undangan" Tuhan juga bagi yang masih hidup untuk mempersiapkan diri bertemu dengan-Nya. Lagipula hidup di dunia ini hanya sementara.
~ JP