
Markus 14:13-15, "Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: 'Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!'"
Terkadang, pemberian yang paling berarti bukanlah materi atau harta benda, melainkan justru kesempatan yang disediakan untuk kita pergunakan agar dapat dipakai oleh Allah.
Seperti halnya yang pernah dimiliki oleh seorang yang membawa kendi maupun sang pemilik rumah.
Saat Yesus bersama murid-murid-Nya hendak merayakan Paskah, Ia menginstruksikan dua murid-Nya untuk pergi ke Yerusalem dan akan bertemu dengan seorang pria yang membawa kendi air yang akan menuntun mereka ke sebuah rumah. Lalu, di sanalah mereka akan mendapati sebuah ruang atas yang telah ditata dan sudah tersedia semua yang diperlukan.
Nama pembawa kendi air maupun pemilik rumah maupun ruangan itu mungkin tidak pernah disebutkan. Namun, tindakan kemurahan hatinya menjadi bagian dari salah satu peristiwa yang paling diingat.
Pembawa kendi air maupun pemilik rumah itu mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana Allah akan memakai tindakan kemurahan hati yang mungkin terlihat sederhana. Di ruang atas itu, Tuhan Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya melalui Perjamuan Kudus, maupun hal-hal penting lainnya.
Bagaimana dengan kita?
Bersediakah kita bermurah hati? Pekakah kita akan kesempatan yang ada di hadapan kita yang mungkin diberikan oleh Allah untuk dipakai oleh-Nya?
Mungkin apa yang kita lakukan terasa serta terlihat kecil atau sederhana, namun saat kita menyerahkan dan melakukannya bersama Allah karena kita mau menaati Dia dan sungguh-sungguh mengasih-Nya, Ia dapat memakainya menjadi hal-hal yang jauh melampaui apa yang dapat kita pikirkan maupun bayangkan.
Jadi, kemurahan hati bukan sekadar tentang sumber daya yang besar, melainkan apa yang terlihat biasa, kecil, maupun sederhana. Mungkin itu melalui kemurahan hati yang kita tunjukkan. Dan adalah sebuah kehormatan apabila kita menyerahkan semua yang kita miliki untuk dipakai oleh-Nya.
1 Timotius 6:7 (TSI), "Karena kita tidak membawa apa-apa ketika lahir ke dunia, dan tidak mungkin kita membawa harta apa pun ketika meninggal dunia."
Sebab, pada waktu kita lahir, apa yang kita bawa ke dalam dunia? Tidak ada apa-apa! Dan kalau kita meninggal, apa yang dapat kita bawa? Tidak ada apa-apa juga, bukan? (BSD)
Bagaimanapun juga, kita tidak membawa uang sedikit pun pada waktu kita datang ke dunia, dan bila kita mati, tidak satu sen pun dapat kita bawa. (FAYH)
~ FG