
Ketika menuruni jalur Linggarjati, ataupun Lingga Jati, dari gunung Ciremai, karena jalurnya tanpa sumber air, maka saya sangat merasa kehausan karena saat itu hanya membawa perbekalan air yang terbatas.
Puji Tuhan karena ada beberapa rangers atau pengawas hutan yang berjaga-jaga di salah satu pos, sehingga saya dapat meminta sedikit tambahan persediaan air agar tidak dehidrasi sampai di pos terbawah kembali.
Benar-benar sangat menghargai setetes air saya waktu itu.
Saya teringat akan kata-kata Daud yang betapa ia merindukan Tuhan, seperti tanah yang kering, yang tandus, merindukan datangnya turunnya hujan.
Mazmur 143:6, "Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela."
Aku berdoa kepada-Mu dengan tangan terentang; seperti tanah yang kering, jiwaku merindukan Engkau. (BIS)
Aku mengangkat tanganku kepada-Mu. Aku haus akan Engkau seperti tanah kering haus akan hujan. (FAYH)
Atau, sudahkah "biasa-biasa saja" kita, bahkan tidak merasa apa-apa lagi terhadap-Nya ataupun menganggap biasa apabila tidak merasakan hadirat-Nya, terutama padahal kita berada dan melayani di lingkup yang notabene rohani?
Masihkah kita haus, dan lapar, akan Dia, lebih daripada kehausan serta rasa lapar jasmani?
Masihkah kita merindukan, sungguh-sungguh merindukan persekutuan yang pribadi dengan-Nya?
Sepertinya Dia bukanlah satu-satunya yang kita benar-benar butuhkan sampai memang hanya Dialah satu-satunya yang benar-benar kita butuhkan.
Dialah Sumber Air yang tidak pernah terbatas. Air Hidup. Untuk hal apa pun yang kita perlukan.
Mazmur 42:1 (VMD), "Kepada pemimpin koor. Sebuah nyanyian dari anak-anak Korah. Seperti seekor rusa minum dari air sejuk, demikianlah juga jiwaku haus akan Engkau, ya Allahku."
SEBAGAIMANA rusa merindukan air, demikianlah aku merindukan Engkau, ya Allah. (FAYH)
(A special psalm for the people of Korah and for the music leader.) As a deer gets thirsty for streams of water, I truly am thirsty for you, my God. (CEV)
~ FG