
Sebenarnya, bersyukur, ataupun tidak bersyukur, yang manapun menjadi pilihan kita, mungkin tidak akan mengubah keadaan ataupun masalah kita. Namun, sudah pasti dapat sangat mempengaruhi suasana hati maupun keputusan yang mungkin hendak kita ambil selanjutnya.
Namun, jika tidak bersyukur, ibarat seorang anak kecil yang diminta potong rambut oleh orangtuanya, tetapi dia memberontak, maka tukang pangkasnya mungkin masih dapat memotong rambut anak itu, namun hasilnya potongannya berantakan.
Berbeda halnya dengan seorang anak yang bersedia, rela melakukan perintah orangtuanya, maka hasilnya pasti jauh lebih dibandingkan anak yang bersungut-sungut, tidak mau menaati tadi.
Bagaimana kita menyikapi apa yang menjadi kehendak-Nya bagi kita saat ini, maupun yang sedang terjadi di hidup kita saat ini?
Masihkah ada rasa syukur, serta ucapan syukur?
Ataukah justru kita selalu mengeluh, bersungut-sungut, berkeluh kesah?
Jika kita adalah anak-anak-Nya, sudah pasti kita tahu mengucap syukur.
Ibrani 13:15 (FAYH), "Dengan pertolongan Yesus, kita terus-menerus akan mempersembahkan kurban puji-pujian kepada Allah dengan jalan menyampaikan kemuliaan nama-Nya kepada orang lain."
Through Him, therefore, let us constantly and at all times offer up to God a sacrifice of praise, which is the fruit of lips that thankfully acknowledge and confess and glorify His name. (AMP)
Let's take our place outside with Jesus, no longer pouring out the sacrificial blood of animals but pouring out sacrificial praises from our lips to God in Jesus' name. (MSG)
"Sparking your innate great is defined by attitudes and actions, not circumstances." (Tracey C. Jones)
~ Dina Evariyana