
Tidak lama belakangan ini, banyak orang membicarakan seekor penguin yang berjalan sendirian, meninggalkan rombongannya. Berita itu menyebar luas, dan menariknya, hampir semua orang memaknainya dari latar belakang pengetahuan dan keyakinan masing-masing.
Ada yang melihatnya sebagai simbol keberanian, ada yang menafsirkannya sebagai pencarian jati diri, ada pula yang mengaitkannya dengan kesepian, kebebasan, atau bahkan kesalahan arah. Satu gambar yang sama, tetapi makna yang beragam.
Fenomena ini mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana: terang bekerja bukan dengan memaksa orang melihat hal yang sama, tetapi dengan memberi arah agar orang bisa melihat lebih jelas. Terang membuka pandangan.
Dalam iman Kristen, menjadi terang bukan berarti merasa paling benar, melainkan hadir dengan cara yang membantu orang lain memahami, bukan menghakimi.
Yesus pernah berkata, "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi" (Matius 5:14, TB2).
You are the light of the world. A town built on a hill cannot be hidden. (NIV)
Perhatikan, Yesus tidak berkata, "Jadilah terkenal," atau, "Jadilah pusat perhatian." Ia berkata, "Kamu adalah terang." Terang mungkin tidak berisik, tidak berdebat. Ia hanya hadir dan membuat segalanya terlihat lebih jelas. Dalam konteks apa pun—iman, budaya, latar belakang—terang selalu bekerja dengan cara yang sama: memberi kejelasan, arah, dan harapan.
Alkitab juga menyatakan bahwa sumber terang sejati bukanlah manusia itu sendiri, melainkan firman.
Mazmur 119:105 (TB2), "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
Your word is a lamp for my feet, a light on my path. (NIV)
Terang di sini bukan cahaya yang menyilaukan, melainkan pelita yang cukup untuk satu langkah ke depan. Ini penting. Menjadi terang tidak selalu berarti punya semua jawaban. Kadang cukup menjadi kehadiran yang menolong orang melangkah hari ini, tanpa harus menguasai seluruh peta hidup mereka.
Bahkan bagi mereka yang tidak berbagi iman yang sama, prinsip ini tetap relevan. Hikmat sejati tidak memaksa keseragaman, tetapi mengundang percakapan yang membangun. Paulus menuliskan sikap ini dengan sangat membumi: "Hendaklah perkataanmu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang" (Kolose 4:6, TB2).
Menjadi terang berarti berbicara dengan kasih, bertindak dengan integritas, dan hidup dengan konsistensi—apa pun latar belakang orang yang melihatnya. Seperti penguin yang berjalan sendirian itu, satu langkah bisa memicu banyak tafsir. Namun ketika langkah itu dilandasi kasih dan hikmat, ia bisa menjadi titik terang bagi siapa pun yang memperhatikannya.
Mungkin panggilan kita hari ini sederhana: hidup sedemikian rupa sehingga kehadiran kita menolong orang lain melihat hidup dengan lebih jernih. Tidak harus menggurui. Tidak perlu memaksa. Cukup setia menjadi terang—terang yang rendah hati, terang yang mengarahkan, dan terang yang memberi harapan.
Sudahkah kita menjadi terang yang membawa hikmat dan kasih bagi siapa pun yang kita jumpai hari ini? Apakah hidup kita memberi kejelasan, bukan kebingungan; pengharapan, bukan penghakiman; dan langkah-langkah sederhana kita menuntun orang untuk melihat terang-Nya, apa pun latar belakang mereka?
~ JP