
"Kamu dari komunitas mana?"
Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sebuah acara ibadah yang terbuka bagi umum. Karena tidak ingin terlambat, saya datang lebih awal. Namun ketika memasuki ruangan, saya melihat banyak kursi sudah "dipesan". Ada yang ditaruh tas, kantong plastik, buku, bahkan barang-barang lain untuk menandai bahwa tempat itu sudah menjadi milik kelompok tertentu.
Tidak apa-apa, pikir saya. Mungkin mereka datang lebih dulu.
Tetapi makin lama saya menyadari sesuatu yang mengusik hati. Banyak orang yang datang lebih awal justru kesulitan mendapatkan tempat duduk. Bahkan ada yang harus mengambil kursi tambahan sendiri karena kursi yang tersedia tidak cukup.
Lalu, seseorang bertanya kepada seorang yang lainnya dengan nada tidak terlalu ramah dengan pertanyaan di awal tadi.
Pertanyaan itu mungkin sebenarnya biasa saja. Tetapi entah mengapa saya merasakan sesuatu yang lebih dalam. Bagaimana jika jawabannya bukan dari komunitas mana pun?
Bagaimana jika orang itu baru pertama kali datang? Bagaimana jika ia sedang mencari tempat untuk bertumbuh? Bagaimana jika ia sedang berusaha kembali ke gereja setelah sekian lama menjauh? Apakah perlakuan ataupun sambutan seperti tadi membuat merasa diterima dan "di rumah sendiri", atau justru merasa masih sebagai orang asing?
Roma 15:7 (FAYH), "Jadi, hendaklah Saudara saling menyambut dan saling menerima, sama seperti Kristus menyambut dan menerima Saudara dengan hangat. Dengan demikian, Allah akan dimuliakan."
So reach out and welcome one another to God's glory. Jesus did it; now you do it! (MSG)
So I say to all of you believers at Rome, accept each other. If you do that, people will praise God as they see you thus behaving like Christ. Accept each other just like Christ accepted you! (DEIBLER)
Saya jadi teringat, Yesus memiliki tempat khusus di hati-Nya bagi orang-orang yang mungkin merasa terbuang. Pemungut cukai. Nelayan biasa. Orang sakit. Orang berdosa. Orang-orang yang sering dianggap bukan dari bagian kelompok manapun. Bahkan ketika murid-murid-Nya ingin membatasi siapa yang boleh datang kepada-Nya, Yesus berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka" (Markus 10:14b, TB2).
Don't push these children away. Don't ever get between them and me. These children are at the very center of life in the kingdom. (MSG)
Allow the children to come to me! Do not forbid them! It is people who are humble and trust as they do who can experience …God's rule in their lives/God taking care of them. (DEIBLER)
Kadang tanpa sadar, kita begitu nyaman dengan kelompok kita sendiri sehingga lupa melihat orang yang sendirian. Kita begitu menikmati kebersamaan dengan teman-teman yang sudah dikenal, sehingga lupa menyapa orang yang belum dikenal.
Padahal mungkin keberanian terbesar seseorang hari itu adalah sekadar datang. Mungkin ia tiba dengan hati yang sedang lelah. Mungkin sedang mencari keluarga rohani. Terutama pasti sedang mencari Tuhan.
Komunitas Kristen yang sejati bukan diukur dari sekadar seberapa erat dalam saling mengenal, tetapi dari seberapa cepat orang yang baru juga merasa diterima.
Yakobus 2:1 (TB2), "Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka."
SAUDARA sekalian yang saya kasihi, bagaimana Saudara dapat mengatakan bahwa Saudara milik Yesus Kristus, Tuhan Yang Mahamulia, jika Saudara mengistimewakan orang kaya, sedangkan orang miskin Saudara pandang rendah? (FAYH)
My dear friends, don't let public opinion influence how you live out our glorious, Christ-originated faith. (MSG)
Miliki hati seperti hati-Nya yang selalu membuka ruang bagi mereka yang datang mencari Dia. Jadilah jembatan, bukan penghalang; menjadi pintu yang terbuka, bukan tembok yang memisahkan.
~ JP