
Salah satu ciri khas orang Kristen adalah tahu mengucap syukur.
1 Tesalonika 5:18, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur, sebab itulah yang Allah inginkan dari kalian sebagai orang yang hidup bersatu dengan Kristus Yesus. (BIS)
Thank [God] in everything [no matter what the circumstances may be, be thankful and give thanks], for this is the will of God for you [who are] in Christ Jesus [the Revealer and Mediator of that will]. (AMP)
And thank God …in all circumstances/regardless of what happens. God wants you to behave like that because of what Christ Jesus has done for you (because you have a close relationship with Christ Jesus). (DEIBLER)
Jadi, bukan untuk gampang bersyukur hanya kalau hidup lagi enak. Melainkan, 'dalam segala' hal atau keadaan. Dan bukan juga 'karena ataupun untuk' segala hal. Tetapi ingat, dalam segala hal. Apa pun keadaan yang sedang kita hadapi saat ini.
Artinya juga bukan pura-pura semua baik-baik aja, namun memilih mencari jejak Tuhan bahkan di tengah keadaan yang sepertinya berantakan.
Bersyukur pun bukan menunggu perasaan senang itu datang. Melainkan, kita membuat keputusan untuk menggeser fokus kita. Dari apa yang kurang, ke apa yang masih ada. Dari: "Kenapa harus aku?", kepada: "Aku nggak sendirian."
Apalagi, coba lihat hari ini: Kita masih bisa bernapas. Banyak hal kecil yang mungkin masih berfungsi serta kita nikmati, seperti secangkir kopi panas, WiFi, atap di atas kepala, chat WA dari teman. Dan lainnya.
Bersyukur pula terutama karena Tuhan kita setia. Kesetiaan-Nya tetap.
Ucap syukur akan melatih mata batin kita agar peka serta tidak buta terhadap kebaikan-kebaikan yang mungkin terasa kecil bagi kita. Dan saat kita bisa melihat, terlatih, serta menyadarinya, hati akan menjadi lebih tenang untuk menghadapi apa pun, yang berat sekalipun.
Karena itu, bersyukurlah.
~ Yuliana Sondakh