
Kolose 2:7, "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur."
Lihatlah kata-kata terakhir itu, bacalah dengan saksama pula.
Hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Pernahkah kita mengalaminya? Saya pernah. Bagaimana dengan Saudara?
Apa yang melimpahi isi hati kita saat ini?
Kekecewaankah? Rasa sakit hatikah?
Hendaklah Saudara berakar di dalam Dia dan memperoleh kekuatan dari Dia. Berusahalah agar terus-menerus tumbuh di dalam Tuhan, dan menjadi kuat serta bersemangat dalam kebenaran yang telah diajarkan kepada Saudara. Semoga hidup Saudara berlimpah-limpah dengan sukacita dan rasa syukur atas segala yang telah dilakukan-Nya. (FAYH)
You're deeply rooted in him. You're well constructed upon him. You know your way around the faith. Now do what you've been taught. School's out; quit studying the subject and start [living] it! And let your living spill over into thanksgiving. (MSG)
Apa yang melimpah di dalam hati, pasti akan cenderung keluar membanjiri cara kita berpikir, berkata, dan bertindak. Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, memberikan satu visi tentang kondisi hati orang percaya yang ideal: hati yang melimpah dengan syukur.
Ini menunjukkan sebuah kondisi batin yang begitu dipenuhi oleh kesadaran akan kebaikan Tuhan dan kasih setia-Nya, sehingga secara alami meluap dalam ucapan dan gaya hidup.
Apa pun boleh terjadi, namun hati kita dapat tetap llimpah dengan syukur. Dan bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena kita mengalami pemeliharaan, kekuatan, serta penyertaan Tuhan di tengah masalah itu. Rasa syukur yang lahir dari relasi, bukan sekadar bergantung pada keadaan.
Mari periksa hati kita. Apa yang melimpahi hati kita saat ini? Apakah kita akan membiarkan kekecewaan menguasai, ataukah memilih untuk tetap berakar, bertumbuh, dibangun, dan diteguhkan di dalam Dia?
~ FG