
Dua tokoh hidup pada masa yang hampir sama.
Keduanya memiliki pengaruh besar. Keduanya dikenal banyak orang.
Namun, warisan yang mereka tinggalkan sangat berbeda.
Yang satu adalah Herodes. Yang satu lagi adalah Yesus.
Herodes menghabiskan hidupnya mempertahankan kekuasaan. Ia membangun istana megah. Membangun benteng. Mengumpulkan kekayaan. Mengawasi siapa saja yang dianggap ancaman. Ia pemimpin yang insecure.
Matius 2:16 (TB2), "Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang Majus itu, sangat marahlah ia. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak laki-laki di Betlehem."
Insecure leader atau pemimpin yang tidak merasa aman diri selalu takut kehilangan posisi. Akibatnya, ia melihat orang lain bukan sebagai pribadi yang harus dibangun, tetapi sebagai ancaman yang harus dikendalikan.
Sebaliknya, Yesus, ketika orang-orang hendak mengangkat-Nya menjadi raja secara politis, Ia justru mengundurkan diri. Ketika murid-murid-Nya berebut posisi atau siapa yang paling besar di antara mereka, Ia membasuh kaki mereka, melayani mereka.
Di sinilah perbedaannya, dunia ini mungkin sering mengagumi orang yang berhasil. Tetapi, prinsip kekristenan adalah apa dampak yang kita wariskan? Apakah sekadar warisan materi serta bahkan malah memadamkan potensi? Tuhan Yesus mengubahkan kehidupan orang. Nelayan biasa, menjadi rasul. Petugas pajak, menjadi penginjil. Orang yang patah hati, menjadi dipulihkan. Orang yang merasa tertolak, menjadi diterima. Orang yang berdosa, menjadi menemukan harapan yang baru. Ia telah mengubahkan hidup Saudara dan saya, bukan?
Kerajaan Herodes sudah lama runtuh. Pengaruh Yesus masih terus hidup. Menulis sejarah yang kontras.
Bagaimana dengan kita? Karena pada akhirnya, warisan terbesar bukanlah sekadar apa yang berhasil kita bangun, melainkan sesungguh lebih pada siapa yang berhasil kita bangun. Pemimpin yang sejati seperti Kristus pasti mewariskan kehidupan yang berubah serta berbuah.
Markus 10:45 (TB2), "Sebab Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Karena Mesias sendiri berada di sini bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi orang banyak. (FAYH)
~ JP