
Pada suatu hari yang lalu, saya sempat menjadi moderator sebuah seminar tentang gadget, game, dan dampaknya bagi anak-anak.
Pembicaranya sudah menjelaskan panjang lebar tentang bahaya kecanduan layar, efek dopamin, brain rot, sampai statistik risikonya. Semua anggukan kepala di ruangan seminar seolah mengerti dan menyatakan, "Ya, saya tahu ini penting."
Tapi di akhir sesi, saya bertanya sebuah pertanyaan sederhana: "Siapa yang bisa membuka menu Digital Wellbeing di HP masing-masing?"
Dari puluhan peserta, hanya dua orang yang tahu bagaimana caranya. Sisanya saling melirik, men-scroll HP, atau hanya tertawa sambil berkata, "Aduh, saya bahkan ndak tahu itu ada di HP saya."
Saat itu, saya berpikir, bagaimana orangtua bisa menjaga anak terkait penggunaan HP maupun media sosial, kalau fitur perlindungannya saja tidak tahu cara mengaksesnya?
Lalu, Roh Kudus juga menambahkan satu kalimat lagi di dalam hati saya yang terasa seperti teguran lembut: "Begitu juga dengan kehidupan rohani."
Kita tahu cerita Alkitab.
Kita hapal teori keselamatan.
Kita bisa ikut seminar iman, retret, ibadah, atau diskusi teologi.
Tapi, apakah kita tahu bagaimana menerapkannya? Apakah kita benar-benar membuka "fitur-fitur rohani" yang sudah Tuhan sediakan?
Banyak dari kita mungkin cuma berhenti di bagian mendengar, merasa cukup hanya karena sudah tahu. Namun, mengetahui tentang cara berjalan tidak sama dengan mulai benar-benar berjalan kaki. Mengerti tidak sama dengan menaati. Memahami teori tidak otomatis menghasilkan transformasi diri.
Demikian juga firman. Firman-Nya bukan hanya untuk didengar ataupun sekadar diketahui sebagai teori, tetapi lebih untuk dihidupi, ditaati dan dijalani secara nyata dalam hidup sehari-hari.
Matius 7:24 (TSI), ""Oleh karena itu, setiap orang yang mendengar ajaran-Ku dan melakukannya ibarat orang bijak yang membangun rumah di atas batu yang padat dan sangat besar sebagai fondasinya."
These words I speak to you are not incidental additions to your life, homeowner improvements to your standard of living. They are foundational words, words to build a life on. If you work these words into your life, you are like a smart carpenter who built his house on solid rock. (MSG)
Yakobus 1:22 (TSI), "Tetapi Firman itu harus kamu lakukan, bukan hanya didengar. Janganlah menipu diri sendiri dengan berpikir, 'Bagi saya, mendengar Firman-Nya saja sudah cukup!'"
~ JP