
Pdt. Markus Simanjuntak pernah membagikan sesuatu yang sangat menarik, tentang perumpamaan mina, yang berangkat dari Lukas 19:11-27. Ada seorang bangsawan atau tuan yang memberikan sepuluh mina, atau sekeping uang emas, kepada sepuluh budaknya untuk mengelolanya maupun sebagai modal untuk berdagang. Ada yang bisa menghasilkan lima mina, ada yang bisa menghasilkan 10 mina juga, tetapi ada yang tidak menghasilkan apa pun dan malah mengembalikan mina itu. Yang dapat menghasilkan lima dan sepuluh mendapatkan anugerah kekuasaan dari tuannya. Yang tidak menghasilkan apa pun dan malah menyimpannya justru diambil darinya dan diberikan kepada yang menghasilkan lebih banyak.
Mina, menurut beliau, salah satu interpretasinya ialah mengenai waktu. Apakah kita telah bijak dalam mengelola serta memanfaatkan waktu yang sama jumlahnya yang Tuhan berikan kepada setiap kita?
Adakah di antara kita yang karena Tuhan begitu sayang kepada kita maka diberikan waktu 26 jam sehari? Atau adakah kita yang karena sekiranya Tuhan tidak sayang, maka kita hanya menerima 22 jam untuk kita jalani dalam satu hari? Tentu tidak ada, bukan? Semua kita diberi "mina" yang sama, yaitu 24 jam.
Tetapi, mungkin ada yang menggunakannya dalam kemalasan. Sebaliknya, ada yang memanfaatkannya untuk hal-hal yang berguna, terutama mengerjakan apa yang baik dan memuliakan nama Tuhan.
Bagaimana dengan kita saat-saat ini, apa yang kita perbuat dengan waktu yang telah Tuhan percayakan?
Efesus 5:16, "Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat."
Maksud saya, pakailah setiap kesempatan untuk melakukan yang baik, karena sekarang adalah zaman yang penuh kejahatan. (TSI)
Gunakanlah setiap kesempatan yang ada untuk melakukan hal-hal yang baik, karena waktu sekarang ini adalah waktu yang jahat. (BSD)
Banyak hal yang ingin mencuri waktu serta perhatian kita—hiburan yang tak ada habisnya, kekhawatiran yang menguras pikiran, atau bahkan kemalasan yang menghancurkan. Menjadi orang yang bijak berarti mau berkata tidak pada hal-hal yang tidak membangun, dan mengatakan ya pada apa yang menjadi prioritas kita yang sesungguhnya.
Suatu hari nanti, Ia akan menanyakan dan meminta pertanggungjawaban atas waktu yang kita pergunakan, seperti halnya tuan terhadap hamba-hambanya pada ayat firman Tuhan hari ini. Apakah waktu yang ada ini kita gunakan untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan, atau tidak?
~ FG