📌 Ringkasan sebelumnya : Kisah Para Rasul 8
Dari laporan Lukas, kita dapat menyimpulkan bahwa Simon, si tukang sihir, telah menjadi percaya melalui pelayanan Filipus. Tangan Tuhan nyata berkarya melalui mukjizat yang menyertai pemberitaan Filipus. Simon pun takjub melihat kuasa Allah yang dinyatakan melalui Filipus. Lalu terjadilah kebangunan rohani di Samaria: kuasa Allah nyata dan Injil diterima. Maka kota itu bersukacita.
Petrus dan Yohanes, yang datang kemudian, menumpangkan tangan atas orang-orang Samaria agar mereka beroleh Roh Kudus. Melihat hal itu, Simon tertarik untuk memperoleh kuasa yang mereka miliki. Ia ingin bisa melakuan apa yang mereka lakukan. Ia malah bersedia membeli kuasa itu. Mungkin ini aneh buat kita. Namun kalau kita perhatikan latar belakang Simon, sebenarnya hal itu tidak mengejutkan. Sebab bisa saja sebelumnya ia harus keluar uang untuk belajar ilmu sihir. Jadi ia mengira bahwa ia perlu membayar kedua rasul agar dapat memiliki "ilmu ajaib" itu. Masalahnya, ia tidak paham bahwa kekristenan dan sihir adalah dua dunia yang berbeda, bagai terang dan gelap. Maka teguran keraslah yang kemudian ia terima dari Petrus.
Bagi Petrus, ini masalah serius. Permintaan Simon menunjukkan kesalahpahaman konsep Kristen bahwa kuasa yang dimiliki para rasul untuk melayani merupakan anugerah. Bukan dibeli dan sebaliknya, tidak dapat dibeli. Pertobatan Simon ternyata belum membersihkan konsep-konsep yang berlawanan dengan ajaran Kristen. Ia masih berpikir seperti ketika ia masih menjadi tukang sihir.
📖 Pengantar Kisah Para Rasul 9
Monster ganas, barangkali itulah istilah tepat untuk melukiskan seorang Saulus sebelum ia bertemu Yesus. Betapa tidak, Alkitab melukiskan bagaimana Saulus memasuki rumah demi rumah, menyeret orang-orang percaya, dan memenjarakan mereka. Alkitab melukiskan betapa Saulus dengan semangat berkobar-kobar serta didukung oleh surat kuasa dari Imam Besar, pergi untuk menangkap dan membunuh setiap orang yang mengikuti Jalan Tuhan. Sungguh ganas dan mengerikan!