📌 Ringkasan sebelumnya : Markus 4
Seorang petani yang hendak menanam akan mempersiapkan semuanya dengan baik karena ia mengharapkan hasil yang baik. Ia akan memperhitungkan takaran air dan pupuk yang sesuai. Ia juga akan menggemburkan tanahnya, karena tanah yang belum siap untuk ditanami tidak akan bisa memberi hasil yang maksimal.
Ada empat jenis tanah dalam nas pembacaan kita. Pertama, tanah pinggir jalan di mana benih yang belum bertumbuh dilahap oleh burung. Kedua, tanah berbatu di mana benih bertumbuh, tetapi menjadi layu karena tidak berakar. Ketiga, tanah bersemak duri di mana semak mengimpit benih hingga mati. Keempat, tanah yang baik di mana benih bertumbuh dan berbuah.
Benih itu adalah firman Tuhan. Yesus mengajarkan bagaimana Injil diterima di dalam hati manusia. Bagaimana benih itu bertumbuh menggambarkan respons kita ketika kita menerima firman Tuhan. Ada yang mendengar tetapi tidak mengerti; ada yang menyimak, tetapi ketaatannya hanya eforia sesaat yang menghilang karena tidak berakar dalam hati; ada yang terguncang karena kekhawatiran dan keinginan fana dari dunia ini.
Yesus mengajar bangsa Israel lewat perumpamaan agar mereka dapat memahaminya dengan mudah. Ia ingin supaya firman yang disampaikan-Nya tertanam di dalam hati mereka dan bertumbuh hingga membuahkan pertobatan.
Pertobatan sejati datang dari hati yang seperti tanah subur, yakni hati yang mau menerima benih firman Tuhan dengan terbuka, juga meyakini dan mempraktikkannya sehingga firman dapat berakar dengan kuat. Apa pun pergumulan dan rintangan yang dihadapi tidak membuat kita jauh dari Tuhan, tetapi kita tetap bertahan dan beriman di dalam Tuhan.
Tidak berhenti di situ saja, kita bukan sekadar mengaku percaya Yesus dan yakin bahwa kita beroleh keselamatan saja. Sebagai pendengar sekaligus pelaku firman, kita dituntut untuk menghasilkan buah pertobatan lewat hidup kita sehari-hari. Karena itu, setelah kita mendengar firman Tuhan, tunjukkanlah perubahan sikap dan ungkapkanlah kasih kepada sesama.
📖 Pengantar Markus 5
Bagaimana pengaruh setan dalam hidup manusia? Merusak! Ini tampak dalam kisah di perikop yang kita baca hari ini. Orang yang kerasukan setan itu hidup terasing dan menyakiti diri sendiri. Hidupnya tak bernilai. Masa depan seperti apa yang dimiliki orang itu? Yesus yang datang ke Gerasa kemudian mengubah segalanya.