📌 Ringkasan sebelumnya : Matius 9
Yesus tumbuh dalam lingkungan, sistem nilai, etika, moral, ajaran, dan tradisi agama Yahudi. Tindakan dan ajaran Yesus bukan sekadar meneruskan tradisi keagamaan Yahudi, tetapi juga memperbaruinya melalui kuasa dan belas kasih-Nya kepada orang berdosa.
Peristiwa penyembuhan orang lumpuh, makan bersama dengan pemungut cukai, dan jawaban tentang mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa mencerminkan cara pandang Yesus atas hukum agama sangat berbeda dengan pemahaman para agamawan serta cendekia Yahudi. Pembaruan ajaran yang dilakukan oleh Yesus lebih dari hasil penafsiran ulang semata.
Di balik semua yang diajarkan dan dilakukan Yesus, Ia memperlihatkan bahwa diri-Nya berkuasa mengampuni dosa manusia. Sebab, kedatangan-Nya adalah untuk orang-orang berdosa.
Tindakan dan ajaran Yesus yang revolusioner dan radikal tidak sekadar menjaga warisan ritual, tetapi juga bertindak berdasarkan belas kasih-Nya. Karena itu, pembaruan yang dilakukan Yesus tidak menyebabkan tradisi agama Yahudi tercabik atau hancur, sebaliknya menggenapi dan menyempurnakannya. Bahkan bersama Yesus diumpamakan seperti jamuan pesta dan sama sekali bukan waktu untuk berpuasa.
📖 Pengantar Matius 10
Yesus memanggil para murid-Nya bukan berdasarkan standar umum seperti memiliki gelar, prestise, jabatan, atau profesi tertentu. Ia memilih berdasarkan kehendak-Nya semata. Sebagian besar murid sebelum dipanggil sudah memiliki kehidupan yang mapan. Ada juragan ikan, bendahara, pekerja bea cukai dll. Namun ketika Yesus memanggil mereka "Ikutlah Aku", segera mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarga dan menyertai pelayanan Yesus. Mereka ditetapkan menjadi duta Injil, untuk menyampaikan keselamatan kepada dunia.