📌 Ringkasan sebelumnya : Lukas 14
Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi dengan kemunafikan mereka, mereka bungkam tidak bisa membantahnya. Sabat adalah larangan bagi orang lain, tetapi mereka akan selalu mencari alasan untuk membenarkan diri ketika melanggarnya. Ketidakpekaan terhadap orang lain selain membuat mereka tidak peduli pada orang lain, juga membuat akal sehat mereka tumpul. Yesus menunjukkan bagaimana orang sedemikian akan dipermalukan melalui perumpamaan pesta perkawinan. Kerendahan hati adalah kata kuncinya! Rendah hati berarti mengenali diri sendiri dan posisinya secara tepat, baik di mata Allah, maupun di hadapan orang lain.
Akhirnya, Yesus juga mengingatkan agar kemunafikan diganti dengan sikap peduli kepada orang lain. Orang munafik cenderung memilih-milih orang untuk dijadikan teman bergaul; pergaulan mereka dilakukan bukan atas dasar kemanusiaan, tetapi atas dasar prestise. Maka, perumpamaan di pasal 12-14 ini sangat tepat untuk menyindir orang-orang munafik. Pergaulan sedemikian tidak menjadi berkat, baik bagi orang yang diundang maupun bagi diri sendiri. Sebaliknya orang yang kemanusiaannya tinggi bergaul dengan tidak memandang golongan, prestise sebagai alat ukur untuk orang lain.
Sebagai anak-anak Tuhan sudah sepatutnya kita menjalani hidup ini dengan mamakai perspektif Allah. Dunia menggunakan perspektif hidup yang bertolak belakang dari cara pandang Allah. Dunia melihat segala sesuatu dari sudut pandang "apa yang aku dapatkan". Kita perlu waspada karena cara pandang seperti ini bisa saja dimanifestasikan menjadi cara-cara yang saleh juga. Namun Allah mengajar anak-anak-Nya untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang "apa yang dapat aku berikan". Sama seperti Dia telah memberikan Anak-Nya untuk keselamatan manusia.
📖 Pengantar Lukas 15
Jika satu dirham dan seekor domba begitu berharga sehingga pemiliknya berupaya keras untuk mencari dan menemukannya, betapa lebih berharganya orang berdosa yang mau bertobat. Jika surga bersukacita atas pertobatan seorang berdosa, maka mencari serta menemukan "domba yang tersesat" dan "koin yang hilang" seharusnya menjadi bagian kita juga, murid-murid Kristus di masa kini.